
Perayaan HUT RI setiap tahunnya selalu menjadi kegiatan yang paling repot karena persiapannya yang sangat luar biasa. Selalu menguras energi dan pikiran. Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku menjadi koordinator tarian pembuka sebelum upacara dimulai. Tugasku sebenarnya tidak terlalu berat, hanya sedikit membutuhkan energi dan waktu. Namun, aku harus mencari jenis tarian yang sesuai, membuat grup tari, menentukan jadwal, mempersiapkan kostum, sampai properti untuk tarian.
Tahun ini jumlah anggota tari berjumlah tujuh orang. Mereka guru-guru Tenera, dari jenjang PAUD, SD, SMP, sampai SMA. Dua minggu sebelum perayaan HUT kemerdekaan RI kami latihan. Di hari pertama latihan setidaknya aku bisa mencontohkan satu gerakan untuk teman-teman agar latihan berjalan dengan baik dan mereka bisa cepat hapal.
Di sela jam kosong aku sering menonton video tari dan mengikuti gerakan dalam video tersebut. Sebenarnya gerakan dalam video tersebut tidak begitu susah, namun tempo yang cepat membuatku merasa sedikit kewalahan dan kadang jungkir balik ra karuan hehe.
Di hari pertama dan kedua latihan, badan masih terasa aman. Namun, di hari ketiga badan terasa sakit, terutama kaki. Bahkan nyaris tidak bisa bangun dari tempat tidur dan ujung-ujungnya izin tidak masuk. Seharian berasa jadi orang lumpuh, hanya di tempat tidur, ditemani obat-obatan dan balsem Geliga.
Namun rasa lelah selama latihan terbayarkan karena melihat tim penari tampil keren. Kostum tari berwarna merah yang dipadukan selendang hijau membuat para penari terlihat cantik dan memukau. Acara berjalan dengan lancar dalam cuaca cerah.
Yang tak kalah membahagiakan di HUT RI ke-80 tahun ini, opung Betty Panjaitan ikut hadir di tengah kami. Wajahnya yang selalu cantik, sikapnya yang ramah, dan juga hangat, menambah kebahagian di hari itu.




Leave a Reply