Cerita Kemerdekaan yang Berakhir Tidak Baik

Dok. Wikihow

Dari awal bulan Agustus sudah terlihat kemeriahan di sana sini. Semua desa sudah mulai memasang umbul-umbul di sepanjang jalan desa masing-masing. Tak ketinggalan di sekolah kami. Setiap jenjang sudah menghiasi area masing-masing dan memasang umbul umbul di sepanjang jalan sejak awal Agustus.

Kami disibukkan dengan persiapan upacara bendera. Dari seberang kelas kami, terlihat anak-anak yang sedang latihan baris berbaris di bawah teriknya matahari. Di tengah kesibukan, guru-guru juga ada yang sedang latihan tari pembuka, drama, karnaval, dan paduan suara.

Selain mengikuti kegiatan di sekolah, saya juga berpartisipasi dalam kegiatan ibu-ibu di tempat kami. Kami, ibu-ibu, mengikuti lomba karnaval. Ketika latihan sangat bersemangat meski usia kami sudah tak muda lagi—dan tahun ini kami sangat senang karena mendapat juara. Yeaahhh!

Tapi tahun ini sedikit berbeda dengan perayaan sebelumnya. Yang berjualan selama memperingati hari kemerdekaan adalah guru-guru dari tim bisnis dan ada beberapa guru yang diminta membantu. Saya salah satunya, sehingga selesai upacara saya membantu mereka berjualan.

Heeemmm.. Kalian tau apa yang terjadi pada saat saya berjualan? Anak saya tak henti-hentinya meminta ini itu, belum lagi jajan saya dan suami. Kantong bocor saat itu juga. Tapi cerita kemerdekaan pada tahun ini ditutup dengan cerita negeriku yang sedang menangis. Semoga setelah ini semua baik-baik saja, Indonesia kembali aman dan damai.