
Salam merdeka! Tahun ini Indonesia genap berusia 80 tahun. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tema merah putih masih mendominasi seantero negeri. Tak ketinggalan kami yang tinggal di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit juga turut memeriahkan suasana. Pohon-pohon sawit yang biasanya hanya bergoyang karena angin, kali ini ikut bergoyang dengan pernak-pernik merah putih hasil kreasi karyawan dan anak-anak sekolah.
Bagi saya pribadi, ini adalah tahun ke-17 merayakan HUT RI di Sekolah Tenera, tepatnya di PT. Agricinal. Dua kali sempat terlewat karena pandemi Covid-19, tapi selebihnya selalu ada cerita berbeda setiap tahunnya. Mulai dari jenis perlombaan, kegiatan sebelum hari-H, sampai upacara bendera yang selalu bikin deg-degan. Satu hal yang tetap sama: saya selalu jadi panitia. Entah di seksi perlombaan, perlengkapan, atau koordinator upacara, pokoknya wajah saya hampir selalu nongol di balik layar acara.
Saya menikmatinya. Bahkan bersyukur. Karena hal-hal kecil yang saya lakukan dalam kegiatan ini, meski sederhana, setidaknya jadi cara saya untuk menghargai perjuangan para pahlawan yang dulu rela berdarah-darah demi berdirinya bangsa ini. Bagian kecil itu saya kombinasikan dengan profesi saya sebagai guru: mendidik generasi muda agar kelak bisa melanjutkan perjuangan dan membangun negeri lebih baik lagi.
Beberapa tahun terakhir, saya bersama partner saya yang saya panggil Bro Wiwin alias Pak Wiwin sang guru Penjas, dipercaya sebagai koordinator upacara. Mulai dari urusan lapangan, tata tertib, daftar peserta, sampai pasukan pengibar bendera (Paskibra). Nah, bagian terakhir ini yang paling bikin kepala cenat-cenut. Idealnya butuh 50 siswa untuk menyusun formasi, sementara murid yang tersisa hanya 58 orang. Itu pun sebagian sudah “dibajak” jadi petugas di tingkat Kabupaten dan Kecamatan, sebagian lagi jadi penari, pemain musik, dan sebagian fisiknya tidak ideal untuk baris-berbaris.
Tapi kami tak mau upacara HUT RI ini asal-asalan. Meskipun kami di tengah perkebunan, kami ingin tampil maksimal. Latihan cuma dua minggu, anak-anak banyak yang belum pernah baris-berbaris apalagi menggerek bendera sesuai tempo lagu Indonesia Raya.
Jadi ya, ada momen-momen di mana kami harus agak galak saat melatih. Untungnya anak-anak cepat belajar, dan pada hari-H, hasilnya bikin bangga. Formasi rapi, pengibaran bendera sukses, bahkan ada yang bilang: “Wah, kayak upacara di Istana!” — meskipun lapangan kami jelas bukan Monas, tapi tanah lapang di tengah sawit.
Seperti biasa, setelah upacara, suasana tambah meriah dengan lomba-lomba khas 17-an. Mulai dari lomba balap karung, tarik tambang, sampai lomba spontan yang idenya muncul mendadak tapi malah jadi paling heboh. Hadiah-hadiah sederhana dibagikan, dan semua orang pulang dengan wajah gembira.
Di titik itu saya jadi berpikir. Kami yang jauh dari ibu kota, dengan fasilitas seadanya (bahkan kadang harus kreatif menambal sana-sini), bisa menampilkan perayaan yang meriah, penuh makna, dan meninggalkan kesan mendalam. Sementara di televisi kita melihat upacara megah dengan biaya yang pastinya tidak kecil: panggung mewah, seragam serba baru, hingga dekorasi serba wah. Padahal kalau ditanya rakyat kecil: apa manfaat langsungnya? ya, paling banter hanya jadi tontonan.
Lucunya, meski fasilitas kami terbatas, semangat anak-anak dan karyawan di sini justru tak terbatas. Bahkan kalau para pejabat mau belajar, bolehlah sekali-sekali datang ke perkebunan, ikut lomba panjat pinang, atau minimal makan kerupuk bareng kami. Biar tahu, semangat kemerdekaan itu bukan soal seberapa mewah perayaan, tapi seberapa tulus hati kita memperingatinya.
Semoga apa yang kami lakukan di pelosok sawit ini bisa jadi pengingat: perjuangan bangsa bukan dilanjutkan dengan seremoni penuh gemerlap, tapi dengan kerja keras nyata. Kalau memang ada biaya lebih… mungkin lebih bijak dipakai memperbaiki jalan berlubang atau sekolah yang reyot, ketimbang untuk seremoni yang hanya berlangsung beberapa jam saja. Merdeka!!!




Leave a Reply