
Siang itu matahari terlalu kejam. Sinarnya menembusi awan yang hadir di langit biru. Panas meyentuh jalan, membakar setiap bagiannya. Mungkin bisa membuat sebutir telur masak tanpa minyak.
Hatiku siang itu turut mendidih. Pekerjaan di toko hari itu lumayan banyak. Aku bukan marah karena pekerjaan tetapi penyebabnya adalah seorang konsumen yang protes terhadap pelayanan kami di toko.
Protes serta kritikannya itu tidak masuk akal. Dia mengatakan Mathagia hadir untuk memutus rezeki orang lain. Aku tidak tinggal diam ketika ada orang yang melontarkan kata-kata kasar terhadap toko dan pekerjaanku.
Pelayanan di sini dicap buruk. Karyawan minus. Harga-harganya mahal. Buka pangkalan gas tapi tidak tanggung jawab. Kasirnya jutek. Diskonnya sedikit. Karyawan dan bosnya sama saja.
Ya, begitulah hinaan mereka yang sejak awal memang tidak menyukai kami dan Mathagia. Kami bisa apa? Hanya menerima hal-hal positif dari mereka sekaligus memperbaiki yang memang perlu kami perbaiki. Untuk menjelaskan satu per satu kami tidak bisa, apalagi aku. Cuma punya dua tangan untuk menutup telinga saja.
Mathagia hadir bukan untuk memperkaya kami melainkan demi kesejahteraan Tenera. Untuk anak-anak mereka yang kejam itu bisa sekolah. Ingat ya, jangan pernah percaya dengan orang-orang yang seolah mendukungmu di depan tetapi ternyata lebih menyeramkan dari hantu ketika berdiri di balik punggungmu.
Walau sudah disakiti, kami tetap memberikan pelayanan terbaik. Walau sudah disakiti, tetaplah berperilaku baik.




Leave a Reply