
Kembali lagi dengan kisah yang aku alami sendiri ya.
Di agama kristen ada istilah naik sidi yang secara garis besarnya dosa ditanggung sendiri, tidak dilimpahkan ke orangtua. Proses sebelum naik sidi memakan waktu yang cukup lama, sekitar enam bulan. Mulai dari bernyanyi sampai menghapal doa dan ayat Alkitab.
Sebelum diberi berkat oleh pendeta kami harus ujian terlebih dahulu. Kami ujian mulai jam empat sore sampai enam petang. Karena saya tinggalnya lumayan jauh maka setelah ujian saya langsung pulang naik motor. Biar nggak kemalaman.
Petang itu langit gelap diikuti gerimis rintik-rintik. Sebenarnya saya takut pulang sepetang itu tapi tetap berpikir kalau tidak pulang nanti hujan makin deras. Sehingga, petang itu saya paksakan pulang.
Perjalanan menuju rumah memang melawati sawah-sawah dan semak tinggi menjulang. Satu-satunya yang mampu mengatasi ketakutan dalam perjalanan adalah lagu-lagu yang saya dengarkan menggunakan earphone. Mendengarkan lagu memang lebih enak ketika sedang naik motor apalagi malam-malam.
Pikiran masih biasa saja ketika melewati tikungan. Tidak ada yang aneh sampai saya mendengar anjing melolong serta suara kuntilanak yang rasanya begitu dekat dengan telinga. Yang membuat saya semakin takut adalah momen ketika motor dan HP mati sendiri ketika suara itu datang.
Tidak ada satu pun orang yang lewat jalan itu. Meski mitos bilang ketika mendengar suara kuntilanak yang terasa dekat, maka keberadaannya pasti jauh—dan sebaliknya—tetap saja takut. Setelah lima menit mendengar suara kuntilanak itu motor dan HP hidup kembali.
Dan ketika menceritakan momen horor itu ke orangtua, mereka tidak mempercayai saya. Namun, dari kejadian itu aku kapok pulang menjelang magrib apalagi ketika awan gelap mendatangkan gerimis rintik-rintik.




Leave a Reply