Tragedi yang Melegakan di Tenda Gorengan

Dok. Wikihow

Perjalanan—waktu—yang terasa lebih cepat menunjukkan dunia semakin tua.

Kata-kata itu sering aku dengar dari orang tua dahulu. Demikian yang aku rasakan mulai tahun ajaran baru. Tak terasa kini sudah tiba Oktober. Bulan yang full kegiatan karena selain peringatan Bulan Bahasa yang diisi dengan berbagai lomba, ada kegiatan bazar Sikola Kumpul Galo 2.

Tujuannya, selain sebagai promosi sekolah juga untuk menumbuhkan kemandirian dan jiwa sociopreneur siswa-siswi sekolah Tenera.  Bazar dilaksananakan di Guest House PT. Agricinal selama lima hari, dari 14 Oktober – 18 Oktober 2025. 

Untuk meramaikan acara bazar ada penampilan siswa-siswi panggung seni. Mereka bernyanyi, menari, dan bermain musik. Aneka stand makanan dan minuman yang tertata rapi bersanding epik dengan tenda permainan dan karya memperlihatkan kekompakan kerja guru dan siswa.

Aku  bertugas di stand gorengan bersama dua guru SMA yaitu Bu Dwi dan Bu Vidya. Kami ditemani para siswa dan siswi dari SD, SMP dan SMA, seluruhnya ada 13 anak. Kami jualan pisang goreng, tahu isi, tempe goreng, ubi goreng, dan bakwan. Ibu Dwi sebagai koordinator memberikan arahan pada anak-anak tugas yang harus dilakukan selama bazar. Semua persiapan kami lakukan dengan bergotong royong.

Persiapan pribadi lain lagi. Itu menyangkut kesehatan jiwa dan raga untuk mengantisipasi perubahan jam kerja. Pada hari biasa kami bekerja selama tujuh jam sedangkan selama bazar sedikit lebih lama. Panitia inti menyampaikan acara bazar mulai pukul 12.30 WIB – 19.00 WIB. Sementara untuk persiapan kita butuh waktu lebih lama apalagi untuk tugas belanja bahan. Kami berangkat pukul 07.00 WIB dari rumah agar mendapatkan harga yang lebih murah. Aku  sengaja membeli suplemen dan juga susu beruang serta menambahkan menu kacang hijau sebagai anti bodi.

Hari pertama butuh kesabaran untuk mengarahkan anak-anak bekerja di stand. Hanya sebagian kecil sudah memahami tugas dan terampil di sana Namun, kami berbagi tugas mengarahkan anak-anak sehingga aku masih sempat menyaksikan penampilan ibu-ibu PII dalam lomba senam mewakili ibu-ibu Agricinal.

Untuk hari ke-2 juga masih aman walau tidak sempat untuk menonton penampilan anak-anak di panggung. Semua lancar. Stand gorengan laris manis. Best seller-nya adalah pisang goreng. Selain besar rasanya juga pas manis legit karena kami mengolahnya dari pisang yang mengkal. Namun, menu lainya sempat diprotes orangtua murid. Katanya bakwan anak-anak terlalu tipis. 

Menanggapi protes itu aku cuma tersenyum lalu bilang ke anak-anak bahwa bakwannya tipis. Aku sarankan mereka memberi compliment untuk orangtua murid itu. Lalu anak-anak memberikan satu bakwan lagi ke ibu tersebut. Senyum deh beliau.

Hari ke-3. Aku merasakan seluruh tubuhku pegal, kaku saat bangun tidur. Aku segera bangunkan suamiku. 

“Badanku terasa pegal dan sakit semua, tolong urut  badanku !”

“Hari ini izin saja gak usah ke bazar,”  jawab suamiku.

“Gak bisa, mulai hari ini aku bertugas belanja bahan-bahan dan dua orang temanku tidak bisa lagi bertugas di bazar karena pelatihan kurikulum di tempat lain,” kataku.

Aku mulai gelisah dengan kondisi itu padahal ingin melaksanakan kewajiban di bazar. Suamiku mulai membaluri sekujur tubuhku dengan minyak kayu putih. Ajaib, selesai diurut   sekujur tubuhku  terasa segar.  Pegal dan pusing lenyap. “Aku mau ke pasar,”  kataku sambil melemparkan selimut kemudian bergegas mandi. 

Sebelum jam tujuh pagi aku harus ketemu penjual tahu tempe biar dapat harga murah. Pisang dan ubi juga aku cari harga yang lebih murah. Ini salah satu cara agar aku bisa membuat gorengan tanpa mengganggu modal penjualan. Karena biasanya pedagang langgananku memberi bonus lebih untukku. Kelebihan itu aku bagi ke anak-anak agar mereka semangat membantu dan tidak kelaparan. Mesakno, kata orang Jawa. Mereka yang menggoreng masa tidak mencicipi.

Mulai hari ke-3 sampai selesai aku menjadi pemain tunggal di stand. Sebenarnya hari ke-3 itu Bu Dwi masih ada hanya saja dia bertugas sebagai MC sehingga aku sendiri yang mengoordinir anak-anak. Aku sedikit kewalahan karena tugas tiga pendamping sekarang menjadi tanggung jawabku sendiri. Tak mengapa untuk urusan masak memasak aku lumayan jago.

Bagaikan koki di dapur MBG aku mengarahkan dan memastikan semua peralatan harus bersih. Sayuran dan semua bahan masakan harus dicuci dengan air mengalir. Tangan wajib higienis. Kecilkan api, bakwan jangan terlalu kecil. Tahu digoreng di kompor atas lalu pindahkan wadah tempe.

Ubi dan tempe harus diiris agak tipis agar menutupi modal pisang yang lebih mahal. Makanan ditata rapi dan yang terpenting harus ramah melayani pembeli. Lelah tetapi aku puas karena semua berjalan lancar dan gorengan laris manis terjual.

Untuk takaran tepung dan bumbu juga menjadi tanggung jawabku. Mengaduk gorengan dikerjakan bergantian. Di hari ke-3 itu aku sempatkan menonton penampilan siswaku yang tergabung dalam paduan suara di atas panggung. Mereka menyanyikan lagu Batak. Menurutku penampilan mereka keren. Tidak sia-sia Bu Apriyanti dan Pak Anggiat melatih mereka.

Bazar hari ke-4 datang peristiwa yang membuat aku shock sekaligus lega. Pada waktu itu aku dipanggil ke ruang biru karena ada pertemuan dengan Opung Dirut. Setelah selesai pertemuan aku kembali ke tenda.

“Ibu, tadi ada kebakaran. Tuti  yang bertugas menggoreng bakwan tidak melihat api menyambar ke kardus yang diletakkan sebagai alas kompor. Untung ada satpam, Bu. Kalau tidak, pasti semuanya habis  Bu,” keluh seorang anak padaku beberapa saat usai kembali dari ruang biru. 

“Bu, kami jangan ditinggal, kami belum bisa kerja tanpa ibu,” anak yang lain menimpali ucapan temannya sambil menunjukkan ekspresi cemas. Aku menarik napas lega sekaligus mengucapkan Alhamdulillah. Tuhan melindungi kami semua.

Bersama anak-anak yang baik ini akhirnya aku dapat menyelesaikan tugas di bazar. Sedikit kewalahan karena masih sebagian kecil yang mau membantu dan bertanggung jawab sampai selesai. Sebagian besar anak laki-laki datang sebentar kemudian menghilang. Mungkin mereka tidak biasa dalam pekerjaan rumah khususnya yang berkaitan dengan masak memasak.

Tampak sekali latar dan kebiasaan dalam keluarga mempengaruhi karakter anak di sekolah. Tantangan bagi kami para guru  tetapi alangkah lebih indah jika orangtua turut berperan menempa karakter anak di rumah.

Satu yang membuatku bahagia. Ketika rekapan laba stand gorengan mendapat keuntungan lebih 100 % dari modal. Doaku dalam hati, semoga di antara kalian nanti ada yang menjadi pengusaha yang berjiwa sosial seperti pemilik PT. Agricinal Opung Nelson Manurung dan Opung Betty Panjaitan, yang  tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi tetapi juga memikirkan para karyawan agar betah dan bahagia tinggal di sini.

“Terima kasih anak-anak baik. Besok kita buka lapak gorengan di Pantai Global ya,” kataku sambil tersenyum.

“Gak mau Bu, capek,” jawab mereka serentak.