Jalur Pulang Menembus Cumolonimbus

Dok. Wikihow

Udara pagi tanggal 14 Oktober 2025 terasa berbeda, seolah mengizinkan untuk sedikit bermalas-malasan. Sebagai salah satu karyawan Sekolah Tenera PT Agricinal, biasanya aku harus berpacu dengan waktu, menempuh jarak sekitar 28 kilometer dari rumah—yang berarti 50 hingga 60 menit berkendara di pagi buta.

Namun, pekan ini adalah minggu bersejarah untuk kedua kalinya bagi kami. Sikola Kumpul Galo datang lagi. Karena acara dimulai siang hari, jadwal keberangkatan pun bergeser.

Empat hari, dari 14 sampai 18 Oktober, adalah masa-masa sibuk sekaligus penuh perjuangan. Aku adalah bagian tim yang mengawal tenda Sikola Foto-foto atau bilik foto , sebuah stand yang kami juluki Zirotus (Modal Ziro Untung Seratus). 

Tantangan terbesarku bukan di lokasi acara, melainkan saat pulang. Selama empat hari berturut-turut, aku harus pulang larut malam. Dan setiap malam pula, perjalananku menjadi sebuah ritual menantang maut: menembus awan cumulonimbus.

Bagi awak pesawat, cumulonimbus adalah momok menakutkan, simbol turbulensi dan badai. Bagiku, ia adalah realitas perjalanan pulang yang gelap mencekam, kadang disertai hujan deras, petir yang menyambar-nyambar, badai angin atau hanya gerimis tipis yang dingin.

Aku tahu penampilanku di tempat kerja sering kali berbeda sendiri karena selalu mengenakan sepatu boot. Bukan karena gaya, melainkan karena keamanan dan kenyamanan. Tidak semua rute 28 kilometer itu beraspal. Boot itu adalah perisaiku dari percikan air, lumpur, batu-batu jalanan, dan yang terpenting, ia menjaga kakiku tetap hangat dan kering ketika harus menembus cumulonimbus terburuk.

Malam demi malam aku melalui rute yang sama. Namun, malam terakhir, Sabtu 18 Oktober, adalah yang terparah. Gerimis gelap mencekam, jarak pandang nyaris nol, dan aku tahu aku sedang mendekati sebuah titik kritis: Jembatan Mumbang.

Jembatan tua dengan alas papan-papan usang yang tempo hari pernah aku ceritakan kengeriannya. Malam itu, di bawah gerimis yang membuat papan kayu menjadi super licin, suasana terasa sangat aneh. Roda motorku terpaksa jalan lamat-lamat.

Setelah melintasi jembatan itu, tantangan lain menanti: tanjakan yang curam dan panjang. Dalam hujan gerimis yang dingin, fenomena aneh terjadi. Uap panas yang naik dari aspal jalanan, terkena siraman air hujan, menghasilkan kabut tebal yang sangat di luar nalar. Asap itu begitu pekat hingga aspal jalan nyaris tak terlihat. Aku serasa melaju di jalanan yang misterius, sebuah batas antara dunia nyata dan entah apa. 

Dalam kegelapan dan di tengah badai kecil yang aku bawa pulang, tidak ada hantu atau makhluk halus. Ketakutan terbesarku adalah hal yang sangat nyata yaitu motor macet di tanjakan itu. Sudah dua kali aku merasakan pahitnya motor mogok di sana. Trauma mendorong motor dari bawah tanjakan curam dan licin itu masih membekas, rasanya sungguh luar biasa menguras tenaga.

Itulah garis akhir dari perjuanganku sebagai tim Zirotus Sikola Kumpul Galo 2. Perjalanan pulang yang selalu disambut oleh kegelapan dan keperkasaan alam. Sebuah kisah ketahanan, ditemani sepasang sepatu boot dan keberanian menembus jalur 28 kilometer di bawah naungan cumulonimbus.