Pahlawan: Ketika Rasa Sakit Tak Bisa Dibagi

Dok. Wikihow

Saat bicara tentang pahlawan, saya tidak lagi berpikir tentang nama-nama besar. Nama-nama yang berani berjuang membela masyarakat, negara, dan lain sebagainya. Saya merasa layak menerima ucapan terima kasih atas usaha dan perjuangan yang sudah saya lakukan untuk hidup saya sendiri. Bukan berarti saya adalah pahlawan tapi lebih ke menghargai diri sendiri.

Saya ingat sekali dengan teks random di aplikasi TikTok: kalau kamu gadis kamu cuma hancur sendiri, tapi kamu seorang ibu, kalau kamu hancur anakmu ikut hancur.  Beberapa hal yang terjadi belakangan ini mengingatkan saya bahwa wah, selama ini saya terus bertahan karena anak.

Setelah menjadi seorang ibu, saya sadar bahwa seorang perempuan bisa kehilangan dirinya sendiri. Mereka merawat dan memberi perhatian penuh pada anaknya. Ia memberikan seluruh dirinya untuk buah hati. Merawat dan mendahulukan keperluan diri sendiri adalah hal kesekian. Ketika terjadi sesuatu buruk, tidak ada orang lain yang membantu selain dirinya sendiri.

Semangat dan dukungan dari orang lain adalah sekadar ucapan saja. Kembali ke diri masing-masing. Rasa sakit tidak bisa dibagi. Tidak bisa dirasakan orang lain. Begitu juga rasa kecewa. Hanya diri sendiri yang tahu (kenapa ya saat menulis ini saya merasa sangat kesulitan merangkai kata dan kalimat? Kayaknya karna disambi curhat).

Note: tulisan ini karna saya adalah seorang ibu dan seorang wanita. Baik wanita dan pria, semuanya punya masalah dan persoalan masing-masing.