Dongeng-dongeng yang Tak Pernah Selesai

Dok. Wikihow

Bicara tentang guru favorit tentu akan banyak sekali nama yang akan saya sebutkan. Saya rasa punya banyak guru favorit, per jenjang dari SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi dengan karakter yang berbeda-beda. Namun ada satu guru yang sampai sekarang tetap hadir di kehidupanku.

Beliau bernama Riyadi, guru SD. Beliau bukan sekedar mengajar, membaca, dan berhitung, tetapi juga menanamkan kenangan lewat cerita-cerita dongeng. Kami selalu menunggu beliau datang kemudian mengajak berkumpul dibawah pohon beringin. Kami bersila dengan rapi dan beliau mulai mendongeng kancil yang cerdik. Kisah soal persahabatan, tentang keberanian.

Suaranya dan perilakunya lembut. Aku tak pernah mendengar atau melihat beliau meninggikan nada bicara meski kami melakukan kesalahan. Sikapnya itu yang membuat beliau menjadi guru yang sangat kami segani.

Caranya bercerita juga sederhana. Entah kenapa kami merasa seperti terhipnotis. Kami betah mendengarkan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Padahal di mata pelajaran lain kami sangat ribut. Itulah metode pembelajaran yang selalu  beliau terapkan untuk kami. Pelajaran yang sulit ia kemas dalam dongeng yang indah.

Kami masih ingat betul janji yang belum beliau tepati. Beliau mau cerita tentang hantu pohon mangga. Namun, waktu berjalan. Kami tumbuh besar, berpencar mengejar mimpi masing-masing. Namun beliau tetap sama. Setiap kali bertemu, beliau masih ingat namaku. Masih tersenyum hangat. Bedanya, sekarang pertanyaannya bukan lagi, “sudah bisa membaca?” melainkan,“sudah ada calon?” Itulah yang selalu beliau tanyakan saat bertemu denganku usai bersalaman.

Lucunya, perhatian beliau tidak berhenti di situ. Dengan gaya khas seorang guru yang merasa muridnya adalah anak sendiri, beliau bahkan pernah dengan serius menanyakan pasangan sampai menjodohkanku dengan saudaranya. Aku hanya bisa tertawa malu. Beliau ikut tertawa sambil berkata ,“Namanya juga guru, dari kecil sampai besar tetap ingin melihat muridnya bahagia.”

Saat itu aku sadar, guru favoritku bukan hanya mengajarkan pelajaran sekolah. Beliau mengajarkanku arti kepedulian, kehangatan dan kasih sayang yang tulus. Dari mendogeng di kelas hingga menanyakan masa depan muridnya, semuanya dilakukan dengan cinta. Dan sampai sekarang, kenangan itu tetap hidup seperti dongeng-dongeng masa kecil yang tak pernah benar-benar usai.