
Fotografi. Kata yang jarang aku dengar tetapi aku sangat tertarik mengikutinya. Beberapa hari silam aku ikut lomba foto. Tidak ada sedikit pun persiapan untuk lomba yang satu ini. Sebab aku terlalu fokus untuk lomba story telling (baca: Lupa Rasa Malu, Sabet Juara Satu).
Hari perlombaan tiba. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk mendeskripsikan gambar di proyektor. Sayang, proyektor itu bikin kesal karena mati nyala mati nyala sehingga aku jadi malas melanjutkan penjelasan. Namun, karena sudah dipercaya, aku lawan rasa malas itu.
Tak lama setelah giliranku, perlombaan selesai. Saatnya pengumuman dan pembagian hadiah. Selama itu pula kepalaku dipenuhi kemungkinan terburuk. Apalagi setelah mengalami kejadian tidak mengenakan dengan proyektor saat presentasi. Ahhh waktu yang tadinya berjalan cepat terasa lambat sekali.
Pembacaan pemenang kompetisi dimulai dari bidang fotografi. Juara tiga diambil sekolah lain. Kepalaku pusing mendengarnya. Juara dua, eh namaku disebut. Bukan main senangnya menyabet juara dua tanpa persiapan apa pun.
Terima kasih Bu Diana, yang telah mempercayakanku untuk mempresentasikan foto. Aku bersyukur karena kepercayaan itu telah melatihku memperbaiki gaya bicara di depan umum.




Leave a Reply