Mewah Itu Ternyata Soal Waktu

Dok. Wikihow

Anak-anak TK B senang sekali menggambar sesuai kreasi. Mereka dengan bangga menunjukkan bakat menggambar lalu memamerkannya pada teman sebangku. Sampai-sampai temannya pun minta dibuatkan gambar yang sama. Melihat mereka sedang asyik mewarnai gambar menggunakan pewarna yang bagus, aku jadi ingat masa SD dulu.

Waktu kelas 4 SD, ada satu benda yang aku anggap mewah dan hanya dimiliki orang tertentu saja. Cuma ada satu anak yang kalau gambar langit, warnanya gak pernah biru doang.

Namanya Bella. Pensil warnanya beda. Punya kami merk pasaran, isi 12 warna, batangnya pendek-pendek karena sering diserut ramai-ramai. Punya Bella panjang, di batangnya ada tulisan emas: _Faber-Castell_. Kotaknya sungguh cantik. Dibuka pelan, “srek”, isinya 30 warna. Ada hijau tua, pink muda, bahkan warna emas.

Waktu pelajaran seni budaya, guru menyuruh menggambar pemandangan. Kami menggambar gunung segitiga, sawah kotak-kotak, dan matahari di pojok kanan. Warnanya tabrakan. Langit putih, awannya malah warna biru muda. Itu pun hasilnya kurang cerah.

Bella menggambar sawah. Hijaunya nggak cuma satu. Ada hijau muda untuk padi baru, hijau tua untuk pohon di kejauhan, hijau keabuan untuk bayangan. Langitnya bukan sekadar biru, tapi dicampur dengan putih dan biru tua. Keren sekali hasilnya.

Aku memuji gambarnya dan mencoba meminjam pewarnanya. “Ini, pakai saja. Tapi hati-hati ya, jangan sampai patah. Pelan-pelan saja pakainya,” kata Bella. Aku senang sekali bisa memakainya. Ternyata hasilnya jauh berbeda. Warnanya cerah dan bagus. “Sudah belum? Jangan lama-lama,” tegur Bella. Aku pun langsung mengembalikannya. Iseng aku bertanya, “Berapa harga pewarnamu?”  “Sekitar Rp50 ribuan,” jawabnya.  

Wah, mahal sekali, pikirku. Aku hanya bisa melihat dan membayangkan, kapan aku bisa membelinya. Ternyata, aku bisa membelikannya sekarang untuk anakku. Pensil warna yang kuanggap mewah kini sudah banyak dijual dan harganya terjangkau. Mewah itu ternyata cuma soal waktu.