
Waktu masih jadi mahasiswa dengan dompet tipis tapi mimpi setebal skripsi, ada satu benda yang sangat aku idamkan: MP4 player. Iya, benda kecil yang sekarang mungkin sudah pensiun dengan tenang di laci nostalgia. Tapi pada masanya, MP4 adalah simbol keren, gaya, dan sedikit kesombongan.
Semua ini bermula dari seorang teman kampusku. Sebut saja namanya Joko (bukan nama sebenarnya, tetapi sering disebut teman kerjaku: Anggi). Setiap hari, Joko datang ke kampus dengan gaya santai, tas selempang, dan satu benda sakti di tangannya: MP4 player.
Benda itu selalu tergenggam seperti harta karun. Kadang dia memakainya dengan earphone, mengangguk-angguk sendiri seperti sedang menikmati konser pribadi. Kadang dia memamerkan videonya ke kami yang cuma bisa melongo. “Ini ada film, bro. Bisa nonton di sini,” katanya santai. Aku langsung terpukau. Di kepalaku cuma ada satu pikiran: gila ini orang kayak punya bioskop mini di saku.
Sejak saat itu, hidupku berubah. Bukan berubah jadi lebih baik sih, tapi berubah jadi penuh keinginan. Setiap melihat Joko, aku tidak lagi melihat wajahnya, tapi melihat MP4 player-nya. Bahkan kalau dia tidak membawa MP4 player, rasanya seperti melihat Superman tanpa jubah. Kurang greget.
Aku mulai berkhayal. Bayanganku, kalau aku punya MP4 player, aku akan jadi mahasiswa paling keren di kelas. Saat dosen menjelaskan, aku bisa pura-pura mencatat, padahal sebenarnya lagi nonton film. Saat teman-teman ngobrol, aku bisa santai sambil dengerin musik, terlihat misterius dan sulit didekati (padahal aslinya cuma nggak punya topik obrolan).
Masalahnya cuma satu: uang.
Sebagai mahasiswa, kondisi keuangan itu seperti sinyal WiFi di pojok kampus, kadang ada, kadang hilang. Harga MP4 player waktu itu terasa seperti harga sebuah mimpi. Aku mulai menyusun strategi: menabung. Tapi setiap kali ada uang, selalu saja ada godaan lain. Entah itu mie ayam, pulsa, atau diskon aneh yang tiba-tiba terasa sangat penting.
Akhirnya, aku hanya bisa menjadi penonton setia kehidupan Joko dan MP4 player-nya. Aku bahkan pernah dengan sangat halus meminjamnya.
“Jok, boleh coba nggak?” tanyaku dengan nada seolah-olah santai, padahal deg-degan.
Pas dia kasih, rasanya seperti menerima tongkat estafet dalam lomba lari olimpiade. Aku pegang dengan penuh hormat. Layarnya kecil, tapi di mataku itu seperti layar IMAX.
Aku coba buka-buka menu, pura-pura paham, padahal bingung. Yang penting gaya dulu.
Tapi waktu terus berjalan. Teknologi bergerak lebih cepat dari niatku menabung. Tiba-tiba, muncul smartphone yang bisa melakukan semuanya—bahkan lebih. MP4 player perlahan menghilang dari peredaran, seperti mantan yang tiba-tiba sudah menikah duluan.
Dan aku? Aku tidak pernah jadi membeli MP4 player itu. Sekarang, kalau dipikir-pikir, lucu juga. Dulu aku sangat menginginkan benda itu, sampai rasanya hidup kurang lengkap tanpa MP4 player. Tapi sekarang, bahkan kalau dikasih gratis, mungkin aku akan bingung mau diapakan. Paling jadi kenang-kenangan atau alat pembuka nostalgia.
Tapi tetap saja, MP4 player itu punya tempat khusus di ingatanku. Ia bukan sekadar gadget, tapi simbol dari masa muda yang penuh keinginan, mimpi, dan sedikit drama keuangan. Dan tentu saja, simbol dari betapa kerennya Joko di mataku dulu.




Leave a Reply