Agustus yang Entah

Ternyata Agustus memang penuh perjuangan. Tugas bejibun. Dari PPG untuk guru dalam jabatan, pelatihan pembelajaran mendalam, program sekolah Tenera, guru mentor, sampai menjadi anggota tari dan pemain drama pembukaan upacara 17 Agustus kemarin.  

Acara tujuh belasan di kebon sukses dan sesuai harapan. Besoknya aku mengantar dan menemani anak-anak mengikuti perlombaan OSN di luar kota selama tiga hari. Aku kira akan menuliskan cerita tentang itu, tapi tidak. Walau hari-hari di Agustus se-gedebak-gedebuk itu semua terlewati dengan baik.

Agustus banyak diwarnai dengan hal-hal mengejutkan. Berita Zara yang di-bully sehingga menyebabkan kematian, ojol dilindas oknum polisi, dan anggota DPR rapat joget-joget ditambah komentar kontroversial yang memicu kemarahan rakyat sehingga rumah mereka diserbu massa. Ternyata Indonesia tidak baik-baik saja.

Semua hal itu menambah beban pikiran kami, para guru, yang menjadi ‘beban’ negara ini. Rasanya ingin berkoar-koar juga, tapi kami terlalu sibuk dengan tugas administrasi sekolah. Belajar tanpa henti, memikirkan setiap inci tentang bagaimana kemudian hari. Semakin lama peran kami semakin dikucilkan, apakah bisa cukup untuk menyambung hidup atau berjuang lagi sampai titik gaji penghabisan hahaha.

Di tengah masalah kehidupan yang tumpang tindih ini, kami para guru adalah manusia biasa. Selain menjadi pengajar, kami juga anak dari orangtua, bapak dan ibu rumah tangga biasa. Kami kalangan biasa yang tak punya asisten rumah tangga. Kami menyandang banyak tugas walau negara mungkin terbebani dengan adanya kami.

Namun, kami tidak seperti tikus berdasi, yang berceramah indah walau tak ada faedah. Yang bekerja siapa, yang mendapat tepuk tangan siapa. Pemimpi seperti kami hanya mengandalkan harapan. Tidak perang ya tidak makan. Perangnya dengan kehidupan dan segala persoalannya.

Kami tidak munafik, sesekali sibuk mengurusi hidup orang. Begitu juga orang lain, sibuk mengurusi hidup kami, hahaha. Hidup memang membutuhkan kesalingan, jadi kadang fakta jadi opini dan opini jadi fakta