
Mengingat sudah bergantinya bulan dan sudah hampir di pertengahan September—dan euforia hari kemerdekaan dengan nuansa merah putih mulai memudar—kami semua beraktivitas seperti biasanya: tanpa chat WhatsApp kumpul latihan, rapat dan kumpal-kumpul ini dan itu hehehe.
Berhubung Agustus kemarin latihan SSB Tenera diliburkan hingga acara HUT RI ke-80 selesai—karena para pelatih fokus dengan kegiatan 17-an seperti latihan drama, karnaval, Paskib, dan persiapan segala acara— para anggota SSB Tenera mulai tidak sabar. Mereka berdatangan menanyakan kapan mulai latihan dan yang saya heran setiap lewat depan ruangan selalu ada saja yang melontarkan hal itu pada saya.
Saya dipercayai menjadi pendamping para pelatih hebat yaitu Pak Wiwin di KU 10 dan Pak Raseb di KU 12 untuk mengembangkan bakat anak-anak. Saya segera berkordinasi dengan mereka (pelatih) lalu menentukan tanggal latihan yang dimulai hari Senin, seminggu setelah Upacara UT RI. Anak-anak gembira, bersorak-sorai sampai riuh mendengar berita baik tersebut.
Berhubung Pak Wiwin sedang mempersiapkan tim futsal SMA berlaga di turnamen tingkat provinsi, saya mengantikan posisinya sementara untuk waktu. Dan di sanalah masalahnya. Minggu malam saya merasa sakit pada bagian perut. Diare. Senin pagi perut saya masih sakit, bolak-balik ke toilet. Kondisi itu sangat melelahkan dan membuat badan terasa lemas. Dengan cepat saya memberitahu Pak Raseb bahwa tidak bisa melatih. Kami sepakat mengganti jadwal latihan ke Selasa. Beliau mengiyakan karena rupanya badannya juga tidak fit.
Latihan digelar hari Selasa. Anak-anak heran karena saya menginstruksikan mereka bersiap di halaman SMP saja, bukan di Stadion Utama Tenera selaku home base kami. Para siswa mulai mengeluh. Mereka yang menginginkan latihan dengan game internal di lapangan utama tapi kenyataannya pahit. Saya hanya tertawa bersama Pak Raseb.
Bukan tanpa alasan kami latihan di halaman SMP. Kami sedang berupaya mencari pekerja untuk memotong rumput lapangan—sejatinya bersih tapi karena sudah lama tidak dipakai tumbuh rumput tebal—yang menjengkelkan. Kaos kaki penuh dengan rumput kanji begitulah kami menyebutnya. Anak-anak tidak mempermasalahkannya karena sudah kami jelaskan sebab latihan di halaman SMP sementara waktu.
Kami latihan seperti biasanya dengan riang dan gembira. Melatih konsenterasi dengan permainan tanpa bola, bermain kucing-kucingan untuk melatih passing, kontrol bola, dan mencari ruang atau posisi ideal menerima bola. Banyak lagi yang kami lakukan. Itu semua kami lakukan untuk mempersiapkan mental dan teknik para siswa untuk bertanding dalam kompetisi.




Leave a Reply