Antara Sapu Tangan, Lumpur, dan Janji yang Menggantung

Dok https://i.pinimg.com/originals/f5/1a/ce/f51ace56927b5d191d217e03b96ef935.jpg

Untuk istri saya bila membaca tulisan ini, maaf sayang jangan salahkan saya karena masih mengenang kisah ini. Aku sangat mencintamu dengan kedua putri kita. Salahkan tukang kebun Nyalanya yang membuat tema Cinta Pertama. Haha.

Bercerita tentang cinta pertama selalu menyenangkan. Tentu, bagi yang punya hehehe. Saya punya cinta pertama. Namanya Zea. Kami berpacaran ketika saya kelas 3 SMA sedangkan dia kelas 3 SMP. Kami bertemu di organisasi remaja gereja. Setiap malam minggu kami bertemu, latihan nyanyian kidung. Zea baik hati, cantik, murah senyum, dan suaranya merdu.

Kami tinggal di kampung yang jauh dari teknologi. Bahkan untuk ke gereja saya harus jalan kaki sejauh enam kilometer. Saat ini mau beli deterjen ke warung saja harus pakai ojek online. Heh, zaman.

Sering pulang bareng membuat kami semakin dekat. Tapi butuh enam bulan sampai akhirnya saya mengungkapkan perasaan. Bukan karena ingin jual mahal tetapi karena saya terlalu takut. Maklum, ini pertama kali saya mencintai seseorang.

Ada satu kejadian lucu dan sedikit tragis saat kami pacaran. Malam itu, kami pulang dari latihan kidung. Teman-teman sudah jalan duluan. Tiba-tiba, tiga pemuda kampung lain menghadang dan menarik Zea dengan kasar. Sebagai pacar yang bertanggung jawab (dan sok jago), saya tak terima. Kami berkelahi. Jatuh bangun, berlumuran lumpur. Untung ada bapak-bapak di warung dekat persimpangan yang melerai.

Kejadian itu berujung pada perkelahian pemuda antarkampung. Para orang tua dan perangkat desa sampai turun tangan. Semua orang jadi tahu kami pacaran. Di balik kejadian itu, saya ingin menunjukkan pada Zea bahwa saya mencintainya dan tak mau kehilangannya. Tatapan bangganya malam itu masih terpatri di ingatan.

Kebersamaan kami hanya berlangsung enam bulan. Setelah lulus SMA saya harus merantau. Waktu berpisah, Zea memberi saya sapu tangan. Kami berjanji saling berkirim surat dan bertemu saat tahun baru.

Saya kuliah sambil kerja. Kesibukan menyita waktu tetapi rindu tetap datang, terutama saat malam minggu. Setahun berlalu, surat-surat masih mengalir. Namun, saya tidak pulang saat tahun baru seperti yang dijanjikan. Komunikasi mulai renggang. Saya bertemu Kalea, mahasiswa Akademi Keperawatan. Kami jadian. Tapi saya masih bersama Zea. Bukan selingkuh, hanya mencintai dua gadis di tempat berbeda (setidaknya itulah yang saya yakini saat itu).

Setahun lebih saya merahasiakan ini. Sampai akhirnya saya merasa tak tega. Saya pulang kampung dan menemui Zea, yang sedang persiapan ujian kelulusan SMA. Di tempat kami dulu jadian, saya berterus terang: saya sudah punya yang lain.

Ternyata dia sudah tahu. Kebetulan Kalea punya keluarga di kampung. Zea hanya tersenyum tipis. Kami bersalaman, berdoa, lalu berpisah. Dewasa sekali, bukan?

Saya kembali ke kota, kehidupan berjalan seperti biasa. Tak memikirkannya lagi. Dua tahun kemudian, saya mendengar kabar mengejutkan. Zea tidak lulus ujian utama. Ia harus mengulang. Dan setelah itu, dia pergi ke Jakarta.

Saya tak bisa membayangkan betapa hancurnya dia saat itu. Rambut panjangnya yang dulu ia banggakan dipotong sebatas leher setelah perpisahan kami.  Waktu berlalu. Saya lulus, merantau ke kota lain, bertemu dengan seseorang. Pacaran, putus, pacaran lagi, putus lagi.

Lima tahun kemudian, saya berencana menikah. Menjelang tahun baru, saya pulang kampung untuk memberi tahu orangtua. Di kampung saya bertemu Zea lagi. Lebih dewasa, lebih cantik—jujur, melebihi calon istri saya saat itu.

Saya menikah tiga tahun kemudian. Lucunya tapi tidak dengan calon istri saya waktu itu. Bukan pula dengan Zea. Lalu dengan siapa? Ah, cerita lain kali saja.