Perpisahan adalah Sukaria yang Ganjil

Dok Wikihow

Saya seorang remaja yang populer di Banjarbaru sejak masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saya anak basket yang mewarisi nomor punggung pemain legendaris di SMP 1 Banjarbaru. Sama seperti remaja pada umumnya yang teracuni MTV, saya juga bikin band dari kelas dua SMP. Anak basket dan musik, kurang apa coba?

Basket tidak lagi saya tekuni ketika masuk SMA. Tinggi badan saya hanya 163 sentimeter, terpendek di tengah pemain lainnya. Bikin malu saja. Saya lebih menekuni musik kemudian mendapatkan banyak penghargaan di festival musik lalu rekaman dan diulas koran-koran lokal. Sempat masuk televisi juga bareng band saya.

Jadi musisi belum cukup memuaskan sehingga saya menjajal hal lainnya. Saya menjadi penyiar di sebuah radio paling populer di Banjarbaru saat naik kelas dua SMA. Pagi sekolah, sore kumpul di kantor pos bareng komunitas tari kejang, malam siaran di Borneo FM. Begitu terus setiap hari.

Popularitas ternyata tidak serta merta memudahkan cari pacar. Dikenal bukan berarti mudah cari kenalan, apalagi di Banjarbaru saat itu. Fans ada tetapi bukan berarti saya harus menggeser pivot mereka. Di dalam dan luar sekolah saya lebih suka berkawan. Belakangan baru saya ketahui beberapa adik kelas dan teman sebaya takut mengungkapkan perasaan karena orangtua saya guru killer di sekolah.

Waktu adalah sesuatu yang cenderung misterius. Mengandung banyak kemungkinan dan ketidakpastian. Mempertemukan kita dengan seseorang lantas memisahkannya lagi.

Semester tiga, 2008 di Yogyakarta, saya pacaran–untuk pertama kali–dengan perempuan bernama Nabila Putri. Ia adalah adik kelas saya saat SMA di Banjarbaru. Kami bertemu di Yahoo Messenger lewat akun seorang kawan. Saya di Jogja, dia di Banjarbaru.

Nabila adalah perempuan pendiam ketika sekolah. Kembarannya—meski tidak identik—lebih populer, cantik. Sering diperebutkan teman-teman seangkatan. Kulit Nabila putih bersih. Rambutnya panjang kemerahan, memikat pandang. Tubuhnya ramping. Wangi. Lekuk-lekuk wajahnya manis meski tanpa ekspresi. Dingin. Dia punya daya tarik yang tidak bisa dijelaskan dengan ribuan kata-kata.

Saya sering memerhatikannya ketika pulang sekolah. Dia jarang bergerombol. Berjalan sendirian dengan payung hitam. Selalu menolak tawaran pulang bareng, entah dari kawannya atau seseorang yang mau mendekatinya. Ia seolah memasang dinding tebal yang mustahil ditembus.

Saya memerhatikannya sepanjang tahun terakhir di SMA. Namun saya tenggelam dalam keramaian musik dan dunia radio sehingga tidak punya energi untuk mendekatinya. Apalagi sikap dinginnya meriutkan nyali. Kadang saya sengaja jalan di belakangnya lalu ketika dia sampai gerbang saya kembali ke parkiran mengambil motor.

Singkat cerita, kami berpacaran. Jarak jauh. Sebelum malam jatuh kami selalu saling menyapa, bercerita. Kepulangan saya ke Banjarbaru tak lagi membosankan. Dia ada setiap hari. Saya kenal keluarganya, akrab, dan begitu pula sebaliknya.

Jangan berpikir bahwa perkenalan antarkeluarga menandakan ke tahap yang lebih serius. Sebelum teknologi dan media sosial mengokupansi sifat, sikap, dan perilaku orang-orang, perkenalan semacam itu sudah biasa. Tanda saling menghormati satu sama lain.

Orangtua tahu dengan siapa kita menjalin hubungan, ke mana, dan bagaimana sehingga tidak keluar batas. Kita memberi rasa aman ke mereka. Sebab, setiap orang adalah anak dari seseorang.

Nabila pacar pertama. Dia perempuan ke-2 setelah ibu yang memberi kado saat ulang tahun. Desember 2008 dia mengirim paket. Isinya selimut, surat, dan buku hariannya saat SMA. Surat itu masih saya simpan. Inilah kalimat favorit saya dalam surat itu.

Aku tahu Jogja dingin sehingga pakailah selimut ini ketika kau menggigil. Bila tidak bisa tidur, bacalah buku diary yang aku tulis selama dua tahun ketika SMA. Tidak ada namamu tetapi aku tahu kau mengerti maksudku …

Bagi Bhela, sapaan akrabnya, saya adalah pacar kedua tetapi cinta pertama. Ia membukakan dirinya lewat diary itu. Memberi tahu masa lalu yang membentuknya menjadi seorang perempuan tangguh di masa itu.

Ada momen-momen yang dingin, ketika ia merindukan ayahnya yang menghilang. Ada pula momen hangat ketika ia girang setengah mati karena ada seseorang yang menyukainya ketimbang saudara kembarnya, menembak, lalu menemaninya menikmati sore di teras rumah.

Ada kedegilan remaja, kemarahan yang meledak-ledak, sampai setiap hal yang memampas kehidupan dalam diary itu. Ia membuka diri seluas-luasnya dan saya menyimak setiap lembarnya dengan perasaan berdepa-depa.

Surat menyurat adalah sukaria kecil bagi kami setelah kado itu datang. Kami tenggelam dalam buku-buku. Dari filsafat sampai politik. Sementara pertemuan bagi kami adalah perayaan besar.

Namun, di balik setiap sukaria dan perayaan selalu ada hal tersembunyi. Demikian pula kami. Saya dan Bhela sama-sama tidak bisa menyembunyikanya lebih lama lagi.

Oktober 2011. Kami berpisah. Waktu mengubah kami. Saya dan dia bukan lagi remaja yang mempersetankan setiap gangguan di kanan kiri. Bukan remaja, meminjam judul tulisan Iwan Simatupang, yang tegak lurus dengan langit. Waktu mengembalikan kami ke titik nol. Menjadi manusia yang mudah lapuk karena hujan kemudian berpikir ulang tentang cinta dan setiap hasrat yang mengepungnya.

Kadang cinta bisa muncul begitu saja. Tak perlu menatah lalu membangunnya lewat banyak pertemuan dan peristiwa. Serupa guntur yang menyambar di siang bolong, cinta juga bisa lenyap tak bersisa. Tanpa tanda.

Perpisahan, barangkali, adalah satu-satunya cara untuk lebih memahami persoalan terumit di alam semesta: cinta.

Perpisahan kami rayakan di bandara dengan sukaria yang aneh, ganjil. Tak ada kesedihan atau kemarahan. Kami lega, dada memang tak sesak lagi. Setiap pertanyaan sudah terjawab dan jalan ke depan akan lebih mudah. Saya tak lagi menjadi pengalang. Dia bukan lagi belukar. Kami siap untuk saling melupakan.

Saya menyerahkan beberapa buah buku lalu menepuk bahunya beberapa kali. Ia memberikan diary terakhir lalu mengecup kening saya. Tak ada yang perlu dikatakan. Tak ada lagi yang perlu dibicarakan sebab kami sama-sama tahu bahwa perjalanan masih panjang. Masih banyak cinta lain yang akan ditemukan.

Perpisahan itu mengantarkan saya ke babak baru. Pemahaman baru, yang datang dari seorang perempuan asal Semarang. Yang membuat saya tersumbat di masa lampau selama bertahun-tahun.