
Tempat tinggalku di PT. Agricinal, tepatnya Desa Pasar Sebelat, Bengkulu Utara. Di tempat itu aku dan keluarga bermukim sekaligus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kurang lebih sudah 30 tahun aku tinggal di perkebunan kelapa sawit ini.
Saat ini cuaca di lingkungan tempat tinggalku sangat panas. Berdebu. Kami mulai mengalami kekeringan. Sudah dua minggu hujan belum turun. Beberapa hari yang lalu aku membaca prediksi BMKG bahwa musim kemarau tahun 2024 datang bulan Juli dan Agustus. Artinya, saat ini sudah mulai masuk kemarau.
Musim kemarau disebabkan angin yang membawa hawa panas dari gurun Australia. Angin tersebut bergerak melewati Indonesia sehingga wilayah nusantara mengalami musim kemarau. Tanaman kelapa sawit yang memiliki daya serap air yang cukup tinggi membuat suhu di lingkungan semakin meningkat.
Kemarau membawa dampak buruk ke lingkunganku. Banyak tanaman mati, meningkatnya debu, polusi, dan kami kekurangan air untuk kebutuhan sehari-hari. Siklus itu berulang dan dari dampak itu kami belajar, mempersiapkan diri.
Biasanya untuk memenuhi kebutuhan kami memanfaatkan air sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari pemukiman warga. Di sungai itu kami mencuci pakaian dan kadang mandi di sana. Bapak-bapak juga mengangkut air untuk kebutuhan rumah tangga mereka. Sungai itu menjadi penyelamat sementara kami.




Leave a Reply