Bu El dan Daftar Belanja yang Tak Ada Habisnya

Dok. Wikihow

Toko Mathagia buka jam tujuh pagi. Pelanggan tetapnya ya ibu-ibu Agricinal, tukang antar buah, dan anak-anak yang cari mie instan tengah malam. Tapi sejak awal, ada satu pelanggan yang bikin aku selalu senyum-senyum sendiri.

Sebut saja Bu El. Dia belanja satu bulan sekali. Pakai kemeja dan jilbab yang diikat rapi bersama tas rajut yang aku lihat tidak pernah ada isinya. Anehnya ia selalu membeli dalam jumlah banyak sampai membuat kami kewalahan. Dia memang luar biasa, selalu bersemangat datang setengah jam sebelum toko buka.

“Satu bungkus garam kasar, beras 20kg, satu bungkus kopi bubuk cap Teko, dan semua varian jajanan,” kata Bu El sambil menunjuk ke atas rak.

Temanku penasaran lalu bertanya apakah semua barang yang ia beli akan dijual lagi atau sekadar memenuhi kebutuhannya. Bu El ketawa, lipstiknya nempel di gigi . “Bukan, Dek, ini buat ngumpan anak-anak di rumah saya.,” jawabnya.

Bulan depannya daftar belanjaannya ganti. Ia membeli tepung beras 1 kilo, 3 bungkus vanili, pewarna makanan merah, dan minyak setengah liter. Semua barang itu diletakkan di meja kasir tanpa keranjang. Aku sampai merinding dia bisa belanja sebanyak itu. Dan setiap Bu El belanja di pagi hari, yang mengantri belanjaan sampai tertawa. Mungkin heran dengan banyaknya belanjaan.

Temanku yang belum habis rasa penasarannya kembali bertanya. “Bu, ini buat bulanan apa bulan jualan sih?” Tapi Bu El sepertinya tipe orang yang cuek. Bodo amat. Dia menjawab suka-suka. “Bodo amat, toh saya yang bayar bukan kalian,” celoteh Bu El.

Pagi di awal bulan ini dia belum datang. Kami merasa kehilangan pelanggan, tapi allhamdulillah juga sih ngga repot pagi-pagi. Eh tidak tahunya dia hanya kesiangan bangun.