Budaya Korup Datang dari Anyer-Panarukan

Daendels (Ilustrasi: wikimedia)

Mungkin banyak generasi saat ini yang mempertanyakan: dari mana mulainya budaya kotor seperti korupsi? Budaya yang telah mendarah daging, dari orang tua sampai anak muda. Yang menghancurkan setiap sendi kehidupan, antarmanusia sampai bernegara.

Kita pernah korupsi. Biasanya tidak disadari sehingga lama-lama menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Dari hal-hal kecil saja, seperti waktu sampai sesuatu yang lebih besar. Kita korup.

Beberapa sumber mengatakan, korupsi di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial alias penjajahan. Terpopuler adalah kasus pembangunan jalan Anyer-Panarukan di bawah pengawasan Daendels tahun 1808-1811. Jalan itu dibangun untuk memperkuat pertahanan militer dan ekonomi Pulau Jawa. 

Jalan Anyer-Panarukan membentang dari Anyer di Banten hingga Panarukan di Situbondo, Jawa Timur, melewati berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Cianjur, Bandung, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Pembangunan jalan ini bertujuan untuk mempermudah mobilisasi militer dan memperlancar perdagangan antara wilayah barat dan timur Jawa. 

Sejarawan Nanyang Technological University, Christopher Reinhart, menemukan arsip bahwa Daendels memberi upah pada para pekerja tetapi diselundupkan oleh pejabat yang berwenang. Sehingga, para pekerja kelaparan. Banyak pula yang mati. 

Selama puluhan tahun kita diberitahu bahwa Daendels adalah seorang marsekal yang kejam, membangun Anyer-Panarukan dengan sisten tanam paksa. Namun, baru-baru ini, selain catatan yang disebarluaskan Reinhart, pemerintah Belanda menunjukan bukti-bukti transaksi pembagian upah.

Saya berpendapat sangat mungkin perilaku korupsi populer di zaman itu. Sayangnya, budaya menjijikan itu terus mengalir ke nadi anak cucu sampai saat ini. Belum ada tindakan hukum atau satu konsekuensi menakutkan yang bisa membuat orang ngeri melakukan tindakan korup. Namun saya yakin suatu saat nanti Indonesia pasti bebas dari korupsi.