Bukan Drama Sinetron

Sebenarnya aku bingung kali ini mau menulis apa. Bingung sih, tiba-tiba ketika lagi jam kosong (maksudnya sedang tidak mengajar) ingatlah diriku dengan cerita keponakanku yang ada nan jauh di seberang. Awalnya anak ini terlalu dimanja menurutku karena orangtuanya dulu selalu memenuhi keinginan anak tersebut.

Aku sebut aja ya nama anak ini Maya.

Maya ini setelah bangun tidur langsung makan. Intinya setiap hari kerjanya hanya makan, tidur, jajan, dan main HP. Kebetulan ketika aku ketemu anak ini dia sudah tamat SMA. Dia tidak peduli kebersihan rumahnya. Mau lantai kotor, piring kotor, dia tidak peduli dan sangat cuek.

Alhasil dia bertemu dengan jodohnya. Kebetulan kemarin menikah lalu pulang kampung. Kebetulan di kampung kakak iparku ini sudah mempunyai rumah sendiri dan tidak ditempati karena mereka selama ini tinggal di Jakarta. Di rumah perusahaan tempat suaminya bekerja.

Awalanya si Maya menikah dan tinggal di kampung, dia masih mau memasak walau hanya sesekali saja karena kebetulan dia masih tinggal sendiri sedangkan suaminya kerja ke kota untuk mencari nafkah. Hanya seminggu sekali sang suami akan mengunjungi si Maya.

Setelah satu tahun, Maya melahirkan anak pertama. Kehidupan mereka masih aman meski si Maya ini anaknya tidak pernah bergaul dengan tetangga atau dengan saudaranya sendiri. Dia hanya berdiam diri di dalam rumah dengan pintu yang jarang sekali terbuka.

Dia hanya menghabiskan waktu dengan bermain HP. Dia juga mencurahkan kegelisahan dan kegundahanya melalui Sosmed. Bila ada keluarga yang menasihati, maka dia akan memblokir nomor saudara yang menasihatinya.

Singkat cerita sekarang si Maya sudah memiliki dua anak tetapi sikapnya semakin aneh. Dia menjadi seorang ibu yang benar–benar tidak bertangung jawab. Tingkahnya semakin menjadi–jadi. Dia bangun tidur menjelang jam satu siang. Itu pun dia hanya memikirkan perutnya, maksudnya bangun tidur dia mencari jajanan dan dimakan sendiri. Dia tidak peduli bagaimana dengan anaknya yang sedang menahan lapar. Untunglah anak–anak tersebut rumahnya dekat dengan keluarga sehingga ketika lapar mereka akan datang ke rumah bibi atau wawak. Di sanalah mereka mendapatkan makanan.

Sebagai pihak keluarga terkadang sangat geram dengan tingkah si Maya ini. Namun, mau bilang apa karena semakin dinasihati dia semakin menjadi-jadi. Bahkan anak-anaknya sering tidak sekolah. Kebetulan anaknya satu kelas 2 dan yang satu lagi kelas 5.

Kenapa tidak berangkat sendiri? Pernah saya mengajukan usul ke keluarga ketika mereka cerita tetapi sekolah anak-anak tersebut jauh katanya, tidak memungkinkan untuk ditempuh jalan kaki. Sedih rasanya mendengar kisah ini. Ternyata bukan hanya di sinetron saja ada cerita ini. Ternyata di keluarga sendiri  memang benar nyata.

Sampai di bulan April kemarin ibunda Maya meninggal dunia. Diavpun sadar kemudian bertanya ke keluarga. “Apakah ibuku meninggal karena tingkahku?,”tanyanya. Otomatis semua kelurga menjawab ya. Kami kira dengan kejadian ini si Maya akan sadar akan kesalahanya tetapi ternyata pemikiran kami semua dari pihak keluarga salah.

Dia malah semakin tidak jelas. Anak-anaknya kelaparan tetapi disuruhnya mencuci, memasak, dan melakukan semua pekerjaan rumah. Dia menyuruh anak dengan marah dan kasar. Akhirnya Maya pergi  ke rumah sakit jiwa sendiri. Dia senang di rumah sakit jiwa karena semua kebutuhanya terpenuhi. Dia bisa makan tanpa masak. Intinya tinggal makan, tidur, main HP. Namun, mungkin ini yang terbaik kata keluarga daripada nanti anak-anaknya menjadi korban si Maya.