Caraku Menaklukkan Dosen Killer

Dok. Wikihow

Sudah ada kerutan di wajahnya yang cantik itu. Rambutnya juga mulai memutih. Namun, orangnya tegas dan agak sedikit pemarah. Dia dijuluki dosen killer. Sosok itu masih terus melekat di kepalaku.

Mengapa mahasiswa sampai memberi julukan itu kepada beliau? Mulai semester satu sampai delapan, beliau mengajar di kelasku. Gelar master dari Amerika ada di tangannya. Cara mengajarnya detail, pronunciation-nya level tinggi.  Dia menginspirasi: aku pasti bisa seperti dia.

Nah, saat pembagian dosen pembimbing skripsiku, dagdigdug jantung ini membaca nama-nama di papan pengumuman. Daaaarrrrr, ternyata beliau dosen pembimbing satu yang akan mengontrol skripsiku dari awal sampai akhir. Banyak mahasiswa yang duluan mundur atau merasa gagal duluan apabila dibimbing beliau. Mungkin kalah mental.

Namun, aku melihatnya dengan sudut pandang berbeda. bagiku dia adalah sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Aku itu sangat suka tantangan karena yakin bisa mengatasinya. Aku yakin Tuhan menolongku dan ngapain mesti takut ya kan.

Sekitar enam bulan lamanya aku berjuang menyempurnakan skripsi. Usai dikoreksi aku langsung tancap gas mengetik ulang, membuatnya lebih bagus lagi. Mahasiswa lain takut menyerahkan perbaikan skripsi ke rumah beliau, tapi aku sebaliknya. Aku ngotot ke rumahnya, biar wisuda tepat waktu.

Kengototan itu bukan hal jelek. Menurutku bahkan adalah tindakan bagus yang harus dilakukan demi mendapatkan gelar tepat waktu. Alhasil skripsiku cepat sempurna lalu wisuda di waktu yang aku inginkan.

Tapi satu hal yang selalu ada dan akan tinggal dan bersemayam di ingatanku dan sampai kapanpun satu pernyataan beliau bakal tidak akan pernah aku lupakan. Waktu itu beliau mengkritikku di depan beberapa teman kelasku di perpustakaan.  “Aku tahu kamu pintar Melda, tapi kamu terlalu percaya diri,” kritiknya.

Aku tidak peduli. Dalam hati aku berkata terserah ibu mau ngomong apa karena yang penting aku bisa tamat dan wisuda tepat waktu hhehhhhehheheeh. Terima kasih untuk Marta Pardede, dosen yang menjadi inspirasi bahasa Inggrisku.