
Peristiwa ini terjadi mungkin sekitar tahun 2014-2015 di Surakarta. Memasuki ajaran baru—lupa semester berapa karena apa sih yang saya tidak lupa huhu. Saat itu saya sudah jenuh dan kehilangan semangat kuliah. Kebahagiaan di kampus dan kos datang hanya saat bertemu dan berkumpul dengan teman-teman.
Sambil menunggu kedatangan dosen yang mengabari datang terlambat, kami duduk di taman depan ruang kelas, membahas tentang hal-hal yang sedang populer saat itu. Kami berbincang tentang seri Iphone terbaru, mal baru, cowok terganteng, cewek paling hits, gosip dari fakultas tetangga, dan lain sebagainya.
Beberapa menit berlalu, layaknya K-Drama, tiba-tiba momen melambat dan aku bisa memastikan seluruh anggota kelas merasakan hal serupa saat sampai pada adegan yang membuat kami melongo dan iri. Ekspresi kami saat itu sama.
Mata kami dibajak mobil mewah nan anggun yang parkir tak jauh dari ruang kelas. Seorang perempuan cantik turun. Ia mengenakan heelstahu 5 cm, memakai rok span dan atasan batik. Shoulder bag hitam di tangan kiri, ipad, dan iphone di tangan kanan.
Hening. Sampai beliau melempar senyum dan memberi isyarat mengajak kami masuk ke ruangan kelas. Kami terperanjat takjub, bahkan beberapa menit setelah ia mengambil waktu untuk istirahat di kursinya, kami masih saling tatap dan melirik. 30 menit kemudian kami menghabiskan waktu perkenalan dan bertanya tentang kehidupan pribadi beliau.
Beliau adalah istri dari seorang Kapolri yang bekerja di Kalimantan. Ia mengelola toko baju batik di Jogja dan saat itu ia sedang sibuk membuka cabang di Solo. Beliau ramah sekali, berkali-kali mengajak kami untuk singgah ke rumah dan toko barunya di Solo. Tentu saja kami mau tapi tak punya nyali.
Suatu hari, beliau dengan semringah bercerita bahwa satu minggu yang lalu dibantu mahasiswa jurusan kami menyelesaikan pekerjaan di toko barunya. Kami bertanya-tanya siapa yang bisa mendekati beliau, menjadi akrab, dan bisa datang ke rumah serta toko barunya. Saat kelas selesai, seluruh mahasiswa laki-laki bergerombol mengobrol dengan ketua kelas.
Si Ikhsan menjadi orang yang kami benci beberapa minggu karena rasa iri kami yang berlebihan. Entah bagaimana ia bisa datang dan membantu dosen idaman kami dan diberikan iphone secara cuma-cuma. Kami iri sekali. Ikhsan dengan sombong bilang bahwa sang dosen merasa kasihan padanya.
“Bu e (ibunya) mungkin lihat aku pakai android yang aku kasih solatif di bagian belakang ini. Katanya kasihan dan HP lamanya ini untukku saja, padahal aku cuma bantu jadi sopir dan angkat-angkat isi tokonya sedikit Hehehe,” katannya.
Kami menggunjing Ikhsan dan mengatakan ia menggunakan kelebihan yang ia miliki sebagai ketua kelas yang memiliki nomor whatsapp pribadi beliau. Kami bilang ia licik dan dengan sengaja tidak mengajak kami datang dan membantu di toko. Meski rezeki adalah rezeki, dan ia mendapatkannya karena membantu, kami tetap saja iri hahaha.




Leave a Reply