Dari Komedi hingga Tragedi, Inilah Babak Demi Babak dalam Dramaku

Dok https://i.pinimg.com/originals/f5/1a/ce/f51ace56927b5d191d217e03b96ef935.jpg

Hidup ini seperti drama. Serupa telenovela. Sutradaranya Tuhan yang maha agung, pemilik semesta alam.

15 tahun yang lalu, tepatnya, 5 April 2009, aku mengikat janji suci. Pernikahan adalah babak baru bersama pemain baru dalam dramaku. Sebenarnya aku dan suami tidak menyangka akan menikah. Tuhan mempertemukan kami lewat selembar tikar dan sebuah sapu. Kurang drama apa lagi coba? Mirip-mirip lah sama Senja dengan Dua Kelelawar yang ditulis Kirdjomulyo.

Kami sebenarnya bekerja di area yang sama. Dia karyawan perusahaan sedangkan aku guru di SD Tenera. Pertemuan kami bermula di hari itu saat suamiku dan temanya mau meminjam tikar milik sekolah. Ketika mereka datang aku sedang menyapu. Mereka melempar senyum tetapi karena tidak kenal dan jujur tidak suka melihat mereka berdua ini, pintu langsung aku tutup.

Seperti setiap momen yang mengantar ke momen lain. Dari satu babak ke babak lain dengan cepat dalam pementasan drama, seperti itulah hubungan kami. Satu bulan setelah pintu ditutup kami jadian (pacaran) lalu secepat kilat merencanakan pernikahan. Lucu.

Saking lucunya, setelah menikah pun kami masih cangung. Bahkan suamiku lupa bahwa sudah beristri. Catat, LUPA! Saat itu, suamiku malah pulang ke mess setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor. Dia lama sekali di sana sampai ditanya teman-temannya.

“Loh kok pulang ke sini Pak? Kenapa?” tanya temannya. Pertanyaan itu semacam sambaran geledek buat suamiku. Karena malu, suamiku mencari-cari jawaban paling logis. Jawabannya klise, ada yang ketinggalan katanya padahal waktu itu benar-benar lupa sudah menikah.

Drama kami tidak hanya berisi komedi. Ada bagian sedihnya juga. Satu hari setelah menikah, mertua laki–laki masuk rumah sakit. Dia menghadiri pernikahan kami dari Jawa Tengah. Karena kondisinya sudah kritis, mertuaku harus rawat inap di rumah sakit. Aku, dengan inai (hena) yang masih segar di kuku juga menginap di sana menemani suami sekaligus menyenangkan mertua. Namun, Tuhan punya kehendak lain. Mertuaku tidak tertolong, da menghebuskan nafas terakhirnya di Rumah sakit M. Yunus Bengkulu.

Aku mengandung anak pertama setelah dua bulan menikah. Suamiku sangat senang. Kami girang. Saat mengandung kami masih sering nongkrong. Kami jalan-jalan ke luar Agricinal lalu bergabung dengan kawan-kawan ke sana ke mari mencari hiburan. Di saat yang sama aku lupa bahwa sudah mengandung. Di suatu sore, perutku seperti dicucuki ribuan jarum. Sakit sekali dan dan benar saja aku keguguran.

Setelah menunggu selama satu tahun akhirnya aku melahirkan anak pertama. Momen itu adalah kebahagian tersendiri bagi kami. Tahun 2015 aku melahirkan anak ke-2, perempuan. Suami sangat bahagia karena diberi anak perempuan. Tiga tahun kemudian anak laki-laki kami tambah satu. Lengkap sudah kebahagian kami. 

Kelahiran anak ke-3 punya cerita sendiri. Mungkin sedikit lucu. Jelang kelahiran, aku beraktivitas seperti biasa karena perkiraan lahirnya baru bulan depan. Paginya aku masih tetap mengajar seperti biasa tetapi perutku tiba-tiba sakit tetapi cuma sebentar.

Rasa sakit itu muncul lagi malam harinya, tepat ketika aku sedang menemani anak pertama belajar ulangan pertengahan semester. Lama-lama rasa sakitnya sudah tidak bisa aku tahan. Suamiku panik tetap aku minta dia tetap tenang agar tidak bikin gaduh perumahan. Namun, saat melihatku mengeden, dia teriak sehingga para tetangga mengepung rumah kami. 

Sakit tak mampu lagi aku ahan. Saran tetangga tak bisa ditawar. Aku dan suami berangkat ke puskesmas terdekat, kurang lebih 30 menit dari perumahan dan melewati jalan berbatu. Sepanjang jalan aku merasa anak kami ingin segera melihat dunia tetapi aku tekan dengan kedua pahaku, takut dia lahir di mobil. 

Begitu sampai di puskesmas aku lari mencari ruangan. Para bidan panik, teriak, berusaha mengejarku. Aku menghiraukan mereka semua. Begitu melihat ruangan kosong, aku merebahkan diri ke kasur lalu melahirkan sendiri tanpa bantuan bidan karena mereka masih sibuk menyiapkan peralatan. 

Anak ke-3 kami merasakan pengalaman kehilangan saat usia lima bulan. Neneknya, ibuku, kembali ke pangkuan sang khalik. Kami sangat sedih dengan kepergian ibunda tercinta. Raga ini seperti tidak berpijak di bumi lagi. Namun aku yakin ibuku abadi di hati anak-anaknya. Di hati cucunya.

Demikian drama dalam hidupku sepanjang 15 tahun ini. Drama yang menggelantar babak demi babak dalam kehidupan. Sang sutradara mengaturnya dengan terencana. Dengan penuh kasih.