Debat Seru Filsafat sampai Negara dalam Ruang Kelas

Dok.Wikihow

Di tengah pembelajaran bahasa Indonesia—kami di Tenera terbiasa dengan pola belajar diskusi—aku bertanya pada teman-teman. Mengapa kita hidup? Apa tujuannya dan mengapa kita yang harus menjalani kehidupan ini?

Begitulah pertanyaanku yang dalam waktu singkat dijawab rombongan cowok-cowok di kelas. Salah seorang teman cowok menjawab panjang dengan mimik dan gestur serius seperti seorang guru yang sedang menjelaskan materi pembelajaran.

Dia bilang, pertanyaanku itu tidak perlu ditanyakan. Sebab jawabannya sangat mudah. Kalau kita dipilih dan diizinkan untuk hidup dan menjalani kehidupan dengan segala persoalannya, berarti kita manusia yang sanggup menerima berkah ini. Jadi tidak perlu lagi ditanyakan karena manusia yang mampu adalah manusia yang hidup.

Harus aku akui jawaban itu menghangatkan hati. Aku lebih semangat dalam menjalani hidup ini. Namun, pertanyaanku tidak berhenti di sana. Sebelum bertanya aku memberi gambaran tentang situasi Indonesia hari ini. 

Kita adalah negara yang menyimpan Sumber Daya Alam (SDA) berlimpah. Negara kaya budaya dari beragam suku. Populasi penduduknya juga besar. Namun, nasib negara kita berbeda jauh dengan negara dengan luas wilayah yang tak sebesar Jawa dan Sumatera. Kalah dengan negara yang tak menyimpan SDA sebanyak Indonesia. Kalah dengan negara yang tak punya keragaman budaya.

Mereka saat ini bisa disebut sebagai negara maju. Kita, Indonesia, belum disebut demikian. Masih tertinggal. Kenapa demikian? Mengapa kita tidak bisa mengolah SDA sebagai pendorong menuju masa depan cerah? Apakah salah urus atau salah penduduk yang belum mau berpikir maju ke depan?

Ruang kelas menjadi ramai. Pendapat demi pendapat disergap pendapat lainnya. Diskusi memanas tetapi di Tenera gambaran seperti itu sudah biasa  Perkelahian ide dan wacana bukan barang baru. Tidak aneh. Dan kami sangat beruntung karena suara anak-anak muda didengar di Tenera.