
Ini bukan tebak-tebakan. Ini adalah pertanyaan yang selalu muncul ketika saya melamun di depan kaca. Pertanyaan yang terus mengusik saya ketika menatap diri saya sendiri. Tentang saya. Siapa saya?
Ibu dan suaminya memberi nama saya Fadly Wahyu Aryandia. Saya dipanggil Fadly sejak kecil. Waktu itu kakek dan nenek menyarankan ayah agar memberi nama anaknya sesuai jumlah weton hari kelahiran saya. Bukan kebetulan, bahwa, jumlah weton dan jumlah huruf nama saya sama: 18.
Saya lahir dari keluarga Jawa yang besar di perantauan. Saya sempat diasuh kakek nenek yang kami panggil Uti dan Kakung. Saya tumbuh di lingkungan dengan persilangan budaya yang kental. Rasio keras-lembut kakek nenek dalam mendidik kami adalah 50:50.
Sedangkan ketika bersama orangtua, kerasnya perantauan membuat mereka sangat tegas pada kami. Rasio keras dan lembut mungkin 80:20. Keras 80, lembut 20 ketika sudah babak belur. Ini bukan keadaan babak belur seperti dalam bayangan kalian ya, mungkin terlalu berlebihan ketika saya menggunakan kata ‘babak belur’ untuk anak 4-7 tahun.
Saya diajari banyak hal oleh orangtua sejak dulu, dari membaca, mengaji, sampai mengerjakan PR. Lama-lama saya sering berdikusi dengan mereka. Ketika membuat PR misalnya. Diskusi itu penting agar saya tidak sekadar mengerjakan saja tetapi juga memahami konsep dalam mencari jawabannya.
Seiring berjalannya waktu, saya menjadi remaja yang suka dengan tantangan baru. Waktu SMP saya coba belajar bahasa Inggris, seni, dan numerisasi. Meski tidak andal, yang penting tahu dasarnya. Dari sana banyak orang yang mengenal lalu saya sebagai seseorang yang bisa diandalkan. Tahu semuanya.
Menjadi seseorang yang bisa melakukan segala hal dan tahu semuanya itu sangat menyenangkan. Namun, tidak ada yang lebih menyenangkan dari seseorang yang ahli dan andal dalam satu hal saja. Kita harus memilih satu hal yang kemudian ditekuni. Sebab, memilih semua hal adalah tindakan gegabah.
Lantas apa yang akan aku tekuni. Bagaimana ke depan dan ke mana nanti aku akan pergi? Saya tidak akan pernah khawatir akan pertanyaan-pertanyaan itu. Yang harus kita perkuat adalah keberanian. Berani untuk memilih lalu menjalaninya dengan sekuat-sekuatnya. Kita hari ini adalah keputusan dari masa lalu. Kita, di masa depan, adalah bagian dari keputusan yang kita buat hari ini.
Marilah hidup, seberani mungkin!




Leave a Reply