Jawa Menarik tetapi Kebun Kami Lebih Indah

Dok.Wikihow

Aku dan keluarga Lebaran di Jawa. Pulau ini kabarnya sangat jauh dari kebun. Kami berangkat menggunakan bus lalu naik kapal laut. Sampai pelabuhan di Jawa hati riang gembira. Namun saat melewati kota-kota, pemandangannya biasa saja. Kota di Jawa mirip dengan Bengkulu.

Kami menginap di rumah saudara selama di Jawa. Empat hari setelah salat Idul Fitri, kami mengunjungi rumah nenek. Kami melewati jalan tol. Ah, katanya jalan tol bebas macet tetapi di jawa sebaliknya. Jalan tol yang kami lewati penuh dengan mobil sehingga laju kami seperti orang naik sepeda.

Jarak rumah nenek dari saudara itu sebenarnya tidak terlalu jauh tetapi karena tol ramai waktu tempuhnya jadi berjam-jam. Kami segera menuju makam kakek setelah tiba di rumah nenek. Di makam juga banyak orang, mendoakan keluarga terkasih yang sudah meninggal seperti yang kami lakukan.

Besoknya kami jalan-jalan ke Keraton Kasepuhan. Di sana banyak senjata peninggalan perang. Ada meriam, tombak, bahkan zirah (baju besi) pun ada. Kabarnya zirah itu adalah rampasan perang dari tentara penjajah. Hari berikutnya kami menuju Jakarta, lihat Monas.

Sama seperti Keraton Kasepuhan, Monas juga banyak menyimpan cerita sejarah terutama kemerdekaan. Banyak orang bule di Monas bawa teropong. Mereka membidik puncak monas, sepertinya mau membuktikan mitos adanya penampakan sosok perempuan di lidah api Monas ketika dilihat dari sisi tertentu. 

Setelah itu kami pulang ke rumah saudara. Jawa memang menarik. Banyak tempat-tempat seru. Namun, menurutku tidak ada yang jauh lebih indah dari rumah sendiri di kebun Agricinal.