
Keluarga kami punya dua tetangga di belakang rumah. Mereka adalah keluarga Kak Rosa dan Kak Fenti. Empat tahun bertetangga cukuplah membuat kami akrab seperti saudara.
Nasib kami ini mirip-mirip. Rumah kami sederhana dan tidak punya banyak barang. Kami tidak hanya saling menguatkan tetapi juga meminjamkan barang lalu memulangkan tepat waktu. Namanya juga bertetangga di desa, pinjam meminjam barang, dari panci sampai piring itu biasa.
Kak Rosa dan Kak Fenti punya hobi berbeda. Kak Rosa senang sekali memutar musik dangdut ketika dia sedang tidak ada kerjaan. Musik yang keluar dari pengeras suaranya itu bikin heboh satu dusun. Kesannya tuh di rumah Kak Rosa sedang ada hajat dangdutan.
Beda dengan Kak Rosa, Kak Fenti jarang dangdutan karena dia tidak punya speaker. Dia suka bernyanyi apalagi ketika sedang berkebun. Kebun Kak Fenti banyak ditanami sayuran dan tanaman yang hijau. Ada kangkung, bayam, gambas, sawi, dan kacang panjang. Segar rasanya melihatnya.
Meski berbeda hobi dan perilaku, kami tidak pernah ribut. Ketika Kak Rosa sedang dangdutan, kami secara sukarela ikut bernyanyi. Saat terdengar suara cangkul dan parang dari kebun Kak Fenti, kami berdoa agar Tuhan melindunginya dari sengatan matahari. Itulah cara kami bertetangga.




Leave a Reply