Kenangan Buruk Sepeda Roda Empat

Dok. Wikihow

Halo! Saya Junita Siahaan. Saya mengajar di jenjang SMA Tenera. Tulisan kali ini bertema tentang barang yang dahulu sangat dinginkan tetapi sekarang tidak ada lagi. Sebenarnya banyak keinginan untuk memiliki sesuatu tapi barang tersebut masih ada hinggat saat ini. Contohnya sepeda roda empat.

Dulu aku sangat menginginkan sepeda tersebut karena lebih mudah mengendarainya khususnya untuk yang gak bisa bawa sepeda tapi pengen naik sepeda. Jadi, waktu itu aku, kakak, dan dua teman sedang main sepeda. Sepeda itu dibelikan bapak untuk kakak saat kami berlibur ke Bengkulu. Ukuran sepedanya cocok untuk kakak yang berbadan kurus dan tinggi. Aku iri tapi sadar diri juga bahwa tidak bisa bawa sepeda.

Suatu hari, aku diajarin main sepeda di halaman rumah mereka. Teman kami punya sepeda roda empat berukuran besar. Karena gak bisa bawa sepeda, aku cuma kebagian peran dorong-dorong saja dari belakang saat kakak menaikinya. Kami balapan, kejar-kejaran sambil teriak-teriak.

“Kami yang menang! Kami yang menang!” begitu teriak teman kami.

Memang mereka yang menang. Ada rasa iri karena kalah. Aku minta balapan diulang dan saat itu gantian aku yang bawa sepeda, bukan tukang dorong lagi. Mereka setuju dan aku girang bukan main karena naik sepeda roda empat.

Balapan berlangsung keras, saling dorong sampai-sampai aku jatuh karena kakak terlalu kuat mendorongnya. Aku jatuh dalam parit besar di halaman rumah. Celanaku sobek. Namun, bukannya langsung ditolong, mereka bertiga ketawa terbahak-bahak. Aku menangis  masuk ke rumah. Aku gak main keluar selama beberapa hari.

Peristiwa itu membuatku takut naik sepeda. Bahkan di usia saat ini kalau diajak naik sepeda, aku menolak.  Sekian cerita dariku. Sampai ketemu di cerita menarik berikutnya. Bye!