
Namanya Guntur Pramono. Beliau adalah guru akuntansi di Sekolah Menengah Kejuruan-ku. Badannya tidak tinggi. Tubuhnya berisi, tetapi perutnya sedikit buncit. Yang paling berkesan dari Pak Guntur adalah keramahan dan sifat kebapakannya. Dia jarang sekali marah dan sangat perhatian.
Pertama beliau mengajar kami kira orangnya seram karena gestur dan bentuk badannya. Eh ternyata malah berbanding terbalik dengan karakter beliau. Sebelum mengajar biasanya Pak Guntur akan bertanya tentang kabar para siswanya. Pernah suatu hari Pak Guntur menanyaiku. Mungkin dia melihat mataku bengkak karena menangis semalaman. Uang jatah bulanan dari orangtuaku dicuri orang.
Aku dipanggil ke kantornya lalu disuruh bercerita. Maklum dulu aku adalah anak kos yang sekolah di kota Pagar Alam. Jauh dari saudara sehingga ketika kehilangan uang tak ada tempat untuk berkeluh kesah. Dengan sabar Pak Guntur mendengar ceritaku itu dan beliau ikut prihatin. Beliau banyak memberi nasihat: aku harus kuat, sabar, ikhlas. Sebab setiap perjuangan punya rintangan dan tantangannya sendiri.
Dan tahu apa yang Pak Guntur lakukan kepadaku? Beliau memberiku uang, pengganti uangku yang hilang. Walau nominalnya tidak sebesar uangku yang hilang, tetapi aku sangat bersyukur karena Tuhan mengirimkan dewa penolong di tengah kesulitan.
Pak Guntur adalah guru favorit di sekolah kami. Awalnya aku tak percaya dengan predikat itu, tapi setelah beliau mengajar di kelas dengan suasana yang menyenangkan dan tidak membosankan bahkan jadi dewa penolong, aku percaya.
Suatu hari aku berkunjung ke kota Pagar Alam, berniat bersilaturahmi ke rumah beliau. Namun aku menerima kabar buruk. Beliau kembali ke haribaan ilahi. Kabar itu membuatku sangat sedih tetapi aku percaya amal beliau akan membawa kebaikan di alam beliau yang kekal dan abadi.




Leave a Reply