Sang Penyelamat di Tengah Kesurupan Massal

Bahasa Inggris adalah pelajaran yang selalu aku tunggu saat SMP. Entah kenapa, setiap jam dalam pelajaran itu terasa berbeda. Mungkin karena aku memang tertarik dengan bahasanya atau mungkin juga karena gurunya.

Beliau perempuan anggun. Cantik dan tinggi. Cara bicaranya lembut tapi menunjukan ketegasan. Setiap kali beliau masuk kelas suasananya terasa lebih hidup. Aku selalu memperhatikan setiap penjelasannya, berusaha menjawab pertanyaan dengan benar. Diam-diam, aku sangat mengaguminya.

Tapi alasan sebenarnya kenapa beliau menjadi guru favoritku bukan hanya karena pelajaran dan gaya mengajarnya.

Waktu itu sedang marak kejadian kesurupan di sekolah. Hampir setiap minggu ada saja yang tiba-tiba berteriak, menangis, atau berbicara dengan suara yang bukan seperti dirinya. Suasananya mencekam. Dan sialnya, itu juga terjadi di kelasku.

Salah satu temanku kesurupan. Makin menakutkan karena setiap kali kesurupan dia selalu menatapku. Tatapannya tajam, penuh kebencian. Padahal saat tidak kesurupan, dia biasa saja padaku. Kami berteman seperti biasa, tidak pernah ada masalah.

Setelah beberapa kali kejadian, entah dari mana asalnya, terdengar kabar bahwa yang merasukinya tidak suka padaku. Jujur, aku benar-benar tidak mengerti. Aku merasa tidak pernah berbuat apa-apa. Tapi sejak saat itu, setiap dia mulai menunjukkan tanda-tanda kesurupan, jantungku langsung berdebar kencang. Dan puncaknya terjadi di suatu siang.

Hari itu temanku kembali kesurupan, dan kali ini jauh lebih parah. Dia berteriak-teriak, memberontak, mencoba melepaskan diri dari pegangan teman-teman yang berusaha menahannya. Suasana kelas kacau. Meja dan kursi bergeser, beberapa teman panik dan menangis.

Aku berdiri kaku di sudut kelas. Sendirian. Takut sekali. Tanganku dingin, kakiku terasa lemas. Dan seperti biasanya, dia menatapku lagi tatapan yang sama, seolah ingin menyerangku. Teman-teman lain sudah bersiap memegangi dia supaya tidak mendekat ke arahku.

Di tengah kekacauan itu, tiba-tiba guru Bahasa Inggris kami mendekat. Beliau berjalan cepat ke arahku. Tanpa banyak kata, beliau langsung memelukku. Pelukannya hangat dan erat, seperti ingin melindungiku dari semuanya. Aku bisa merasakan tangannya mengusap punggungku dengan lembut.

“Tenang… nggak apa-apa ya. Mam di sini.”

Kalimat itu sederhana. Tapi entah kenapa, saat itu rasanya seperti tembok besar yang melindungiku dari rasa takut. Di dalam pelukannya, aku merasa aman. Jantungku yang tadi berdebar liar perlahan mulai tenang.

Aku menangis. Bukan hanya karena takut tapi juga karena terharu. Di tengah situasi yang kacau dan menyeramkan itu, ada seseorang yang berdiri di sampingku. Yang memilih mendekat, bukan menjauh. Sejak hari itu, beliau resmi menjadi guru favoritku. Beliau menjadi tempat aman di saat aku benar-benar ketakutan.

Setiap kali mengenang masa SMP yang paling aku ingat bukanlah ketakutan melainkan pelukan hangat dan suara lembutnya yang menenangkan sekaligus memberi rasa aman. Kalimat sederhana, yang cukup membuat seseorang merasa tidak sendirian.