Memburu Dosen Ganteng Sampai ke Masjid

Dok.Wikihow

Teringat 21 tahun yang lalu saat masih bersama dengan teman sekampus dan kos-an . Banyak duka yang kami alami, terutama ekonomi. Mau beli sesuatu saja harus patungan demi mengirit uang bulanan karena tidak mungkin ada tambahan hehehe. Di akhir bulan satu bungkus mie instan dibagi dua untuk makan satu hari. Dicampur nasi biar perut kenyang.

Oh ya, ada seorang temanku bernama Fitri. Dia cantik. Berkulit cerah. Pokoknya kerenlah. Fitri suka sekali pakai baju seksi dan menurut kami tidak masalah karena dia memang keren, ramping tubuhnya. Kami hari itu masuk kelas terlambat dua menit dari dosen alim yang sudah mengajar itu. Saya langsung disuruh duduk tetapi Fitri tidak.

“Kenapa kamu senyum-senyum? Udah kamu keluar aja gak usah ikut kelas saya karena melihat kamu, materi yang mau saya sampaikan buyar,“ kata dosen tersebut.

Namun, di kampus mana pun pasti selalu ada dosen yang membuat mahasiswanya betah di kelas. Bahagia. Begitu pula di kampus kami. Semua kaum hawa datang. Tidak pernah terlambat bahkan datang lebih awal, rela menunggu kehadiran sang dosen. Dia masih lajang, pintar, dan ganteng pastinya. Kata temanku dia gantengnya kelewatan, kalau sekarang mirip bintang Korea kali hehehe. Cara mengajarnya juga menarik dan tidak membosankan.

Pokoknya kalau si dosen ini mengajar tidak ada kata kantuk.  Apalagi si dosen suka bikin para mahasiswi salah tingkah dengan pujian-pujiannya. Nah, si dosen itu ibadahnya juga bagus. Setiap waktu zuhur dan ashar pasti salat di masjid kampus. Temanku, Doli, sepertinya sudah cinta mati sama si dosen karena setiap waktu salat pasti mengajak saya ke masjid.

Padahal kita kan bisa salat di rumah. Lagipula rentang waktu antara zuhur dan ashar cukup lama tapi karena demi bisa bertemu dosen ganteng itu kami rela menunggu sampai jam di sana. Dosen tersebut ketika salat mana pernah melihat kami, tapi yang penting kan kami melihat dia hahaha. Pulang ke kos jalan kaki sambil ngobrolin dosen ganteng bernama Ari itu. Doli bahkan berkhayal yang tidak-tidak.

“Coba Pak Ari lewat sini ya,” kata Doli.

“Kenapa memangnya?”

“Kalau dia lewat aku mau menyebrang biar ditabraknya dan terpaksalah dia menikahiku,” jawab Doli.

Kami tertawa kencang.