Kumpulan Cerpen yang Melemparku ke Masa Lalu

Dok. Youtube Ory Channel

Suatu hari saya meminta pustakawati Sekolah Tenera memilihkan buku kumpulan cerita pendek (cerpen) untuk materi pelajaran. Pustakawati Tenera, dengan tangkas dan cermat memilih kumpulan cerita pendek dari majalah Bobo.

Kumpulan cerpen yang dijilid dengan rapi itu saya baca terlebih dahulu karena mau dikupas tuntas bersama siswa di kelas. Dengan ingatan yang sangat pendek ini saya segera lupa dengan judul-judulnya. Yang saya ingat, kumpulan cerpen itu menyadarkan bahwa ada banyak hal terabaikan saat kita tumbuh dewasa.

Sahabat misalnya. Kebanyakan cerpen Bobo selalu mengangkat tema persahabatan. Tema itu melemparkan saya ke masa kecil. Masa-masa ketika sahabat selalu memberikan pundak dan begitu pula sebaliknya. Saya sedih dan tidak semangat belajar ketika sahabat saya tidak masuk sekolah karena sakit. Teman-teman lain seperti tokoh tambahan, tidak bisa menggantikan sahabat meski kerap bermain bersama. 

Perasaan semacam itu mungkin sudah asing tidak pernah saya rasakan lagi sejak masa kuliah. Saya menjalani masa-masa perkuliahan sendirian. Makan di kos sendiri sudah biasa. Apalagi saat bekerja, menikah, dan mengurus anak. Saya rasa orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama saya saat ini ya anak dan suami. Saya bahkan lupa kapan terakhir menyebut seorang teman sebagai sahabat.

Sahabat yang dulu ada sekarang sibuk dengan keluarga dan pekerjaan masing-masing. Ternyata menjadi asing, dan menjadi sebatas penonton story, tidak hanya berlaku bagi anak muda. 

Cerita pendek dalam majalah Bobo juga kerap menyampaikan amanat seperti tidak boleh berbuat jahil pada teman. Saya geli ketika menemukan fakta itu. Ada banyak sensasi yang datang seiring gambar-gambar singkat masa muda. Saya rasa masa sekolah dan remaja memang tidak ada duanya. Merinding.