
Namaku Rachel Nadeak. Panggil saja Achel. Aku lahir tahun 2010, artinya sekarang usiaku 15 tahun. Anak kecil ayahku ini sudah remaja sekarang. Sedang menikmati masa-masa paling indah sekaligus krusial. Indah karena warna-warni momen dan peristiwa sementara krusial karena masa remaja adalah waktu kita untuk membuat rencana masa depan.
Aku anak desa, tinggal di tengah perkebunan sawit. Pemandangan yang aku lihat selama belasan tahun adalah pohon-pohon sawit menjulang, tanaman, dan tumbuhan di sekitar. Tanah lapang adalah taman bermainku bersama teman-teman.
Rules number one, jangan beranggapan bahwa remaja seperti kami—yang tinggal di desa dan perkebunan—berpikir pendek tentang kehidupan. Buang jauh-jauh pikiran macam ‘remaja seperti mereka itu lulus SMA paling langsung menikah’ atau ‘paling mentok lulus SMA lalu kerja dan buka usaha kecil-kecilan’.
Number two, jangan sesat pikir lalu bilang hanya remaja di pinggiran desa hanya menunggu takdir. Tahukah bahwa tempat bukan penghalang. Kami punya mimpi besar dan akan mengejarnya sampai mampus.
Meski tidak tinggal di tengah gedung-gedung besar seperti remaja perkotaan, kami tidak pernah ketinggalan teknologi dan informasi. Internet di desa kami cukup baik dan gampang diakses. Kami tahu betul cara memanfaatkan teknologi dan informasi. Otak kami di kepala, utuh tidak terbagi di dua jempol.
Aku bersama teman-teman desa sekolah di Tenera. Sekolah swasta dengan kualitas yang mampu bersaing dengan sekolah-sekolah negeri populer di luar desa. Tak ada bullying di sekolah kami. Kami kreatif, inovatif, dan produktif lewat ekskul dan event. Guru-guru mendukung lalu mendorong kami sekuat tenaga untuk mempertajam skill.
Lantas bagaimana aku melihat diriku sepuluh tahun ke depan? Pastinya tempaan di Tenera membuatku menjadi perempuan dewasa yang matang dalam berpikir. Seorang dokter berkalung stetoskop. Setelah menjadi dokter aku akan membuka klinik kecil-kecilan. Klinik itu aku tatah pelan-pelan bersama rekan dan kolega.
Sepuluh tahun ke depan klinik itu akan membawaku mampu berinvenstasi ke bisnis perkebunan. Kalau tabungan lebih dari cukup aku akan membawa ibu kembali ke Bali, kampung halamannya. Itulah mimpi sekaligus ramalanku dalam sepuluh tahun ke depan.




Leave a Reply