
Entah kenapa kata ‘review’ selalu membawa ingatanku ke cerita kolosal tahun 90an. Serial radio seperti Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi, Saur Sepuh, dan Wiro Sableng menjadi bagian hidup yang kini aku dapatkan kembali.
Ada Ayah dalam cerita-cerita lejen itu. Kekasih pertamaku itu selalu setia menunggu sandiwara laga itu di depan radio usang dalam gubuk kami setiap hari. Kami pun selalu menemani ayah.
Hiaat Hiaaat Hiaaat! Boom! Das des das!
Suara pertarungan para pendekar dari pengeras suara radio membikin jantung berdebar lebih cepat. Wajah ayah akan keliatan lebih mudah dari umurnya. Betapa sederhana ayah, hanya mendengar sandiwara ini saja dia hanyut dalam kegembiraan. Tenggelam dalam kebahagiaan.
Aku membayangkan adegan demi adegan. Babak demi babak. Situasi, latar, dan setiap dialog. Mantili, Raden Bentar, Brama Kumbara, bahkan sampai tokoh Mak Lampir dalam Misteri Gunung Merapi menghinoptisku. Sampai detik ini suara Raden Ayu Mantili yang terkenal dengan pedang setannya dalam Brama Kumbara dan Mak Lampir masih terngiang di telingaku.
Saur Sepuh tercatat sebagai sandiwara radio bertema legenda terpopuler di Indonesia. Penulis naskah serial yang tayang sejak 1988 itu ditulis Niki Kosasih. Kesuksesan Saur Sepuh membawa sandiwara ini ke layar lebar. Niki juga yang menulis naskahnya bersama Imam Tantowi.
Saur Sepuh dan cerita-cerita legenda lain juga sempat dibukukan. Ketebalan bukunya melebihi Harry Potter. Ayah yang hobi membaca mengoleksi bukunya. Saya juga baca tetapi harus antri terlebih dahulu. Namun aku selalu senang hati menunggu giliran.




Leave a Reply