Musik, Letto, dan Allah

Foto: Dok.Letto

Lagu bukan sekadar karya seni berupa rangkaian nada berpadu irama dan lirik. Baru-baru ini saya yakin bahwa lagu adalah mesin waktu. Teknologi yang mampu membawa kita ke mana saja, termasuk masa lampau.

Hari itu aku sedang asyik mendengarkan lagu-lagu tahun 2000an di sebuah platform dengar digital di ponselku. Sederet lagu-lagu masa remaja dari Sheila On7, Letto, Padi, dan lain-lain yang berbaris dalam playlist membawaku ke masa-masa ceria saat remaja.

Semua kenangan berdatangan seiring perputaran lagu. Setiap gambar jernih. Terulang dengan sangat hebat. Canggih, dengan mendengarkan lagu kita akan mendapatkan sesuatu yang pernah menjadi penting di masanya.

Bicara soal lagu, saya melihat ada dua kecenderungan psikologis ketika menikmatinya. Saat sedih, kita cenderung menyesap lirik sambil merenung. Namun, ketika sedang berbahagia dan ceria, kita cenderung memilah. Lirik dan tema lagu tidaklah penting. Mau dari dangdut, pop, rock, hip hop, koplo, dan lain sebagainya tidak masalah. Pokoknya yang penting happy. Goyang.

Setiap lagu punya banyak interpretasi. Pertama adalah milik penulisnya atau band yang meramunya secara keseluruhan. Yang kedua, interpretasi pendengar.

Jalanku hampa dan kusentuh dia/Terasa hangat oh, di dalam hati/Kupegang erat dan kuhalangi waktu/Tak urung jua kulihatnya pergi/Kau datang dan pergi oh, begitu saja/Semua kutrima apa adanya/Mata terpejam dan hati menggumam/Di ruang rindu kita bertemu.

Begitulah lirik lagu Ruang Rindu Letto yang dinyanyikan Noe dari album Truth, Cry and Lie. Lagu itu juga ada dalam playlist yang aku dengarkan. Seketika aku teringat bahwa lagu tersebut pernah menjadi lagu latar sinetron Intan tahun 2000-an yang dibintangi Naysilla Mirdad, Dude Herlino, dan Inka Noverita. Sinetron itu sama seperti soundtrack-nya. Sangat digemari sekaligus digandurungi para remaja.

Tentang lagu itu sendiri, saat itu aku kira Ruang Rindu menangkup kerinduan seseorang yang terhadap kekasihnya. Tentang seseorang yang ingin bertemu karena tak ingin kehilangan. Aku membayangkan rindu yang begitu berat itu membebani pundak sekaligus membuat sesak dada tokoh dalam lagu itu. Aku menangkap ada keinginan kuat sekaligus kerinduan hebat yang harus dituntaskan dalam ruang dan waktu.

Aku menemukan makna dan interpreasi lain dari dari Ruang Rindu. Lagu Letto ini menangkup keyakinan spiritual, rindu pada Allah SWT. Di mana dalam keheningan waktu dapat membawa kita untuk mengingat dan semakin dekat dengan Allah. 

Ingatan manusia memang terbatas. Namun tidak bisa jadi alasan untuk tidak mengingat Allah. Yang terjadi, banyak yang melupakan Allah ketika menerima nikmat dan kebahagian. Allah kembali disebut saat kesulitan dan kesusahan datang berlipat-lipat ganda. 

Sebaiknya kita selalu merindukan kehadiran Allah di dalam hidup kita. Tidak hanya dalam kondisi tertentu saja. Bukan dalam keadaan susah setelah musibah baru sibuk mencari Allah untuk meminta ampun. Lagu ini sungguh menyesakkan dada, mengingatkan akan tidak sempurnanya manusia dan hanya Allah yang maha pengampun sekaligus maha penyayang.