
Halo. Gue Julvian dan ini pendapat gue tentang media sosial (baca pakai nada yang ke-Jakarta-an seperti salah satu tren Tiktok). Gue mulai ya, one..two..three.. (baca dengan nada sama).
Untuk remaja seperti saya dan teman-teman di SMP Tenera, media sosial terutama Tiktok sangat berguna. Kami banyak mengetahui info yang belum pernah kami dengar sebelumnya. Kami mengenal hal dan kebiasaan baru yang tidak ada di tengah perkebunan, tempat tinggal kami.
Bagi kami bahagia itu sangat sederhana. Dengan menonton orang-orang joget dan bernyanyi tidak keruan saja—di Tiktok—kami sudah bahagia, meski singkat.
Namun, Tiktok punya kekurangan besar. Bagi kami, anak-anak yang tinggal di tengah area perkebunan, Tiktok itu bisa membuat malas. Konten-konten di sana bisa bikin kami lupa diri sehingga malas membantu orangtua. Malas belajar juga karena hanyut dalam konten tidak berguna seperti joget-joget itu.
Konten seperti itu kami maknai sebagai hiburan saja. Selebihnya kami harus siap meletakan HP ketika suara orangtua memanggil sebab keluarga lebih penting dari media sosial. Begitulah kami memaknai media sosial di Agricinal, tempat hidup yang tiada bandingannya.




Leave a Reply