Membungkam Anak Kota

Dok.Wikihow

Aku seorang remaja yang tinggal dalam perkebunan di Agricinal, Putri Hijau, Bengkulu Utara. Aku tinggal di perkebunan karena orangtua bekerja di perusahaan yang menaungi dan melindungi kampung kami.

Meski tinggal di tengah perkebunan, pengalaman kami hampir sama dengan anak-anak di perkotaan. Pengalaman yang aku maksud tentu saja bermain dan belajar. Kami belajar di sekolah bernama Tenera, tepat di jantung perkebunan. Di sana kami tidak hanya belajar akademis tetapi juga mendapat banyak dorongan mengasah bakat dan kemampuan terpendam.

Kami sering ikut lomba di bidang olahraga, olimpiade akademis, musik, menulis, dan lain sebagainya yang diadakan sekolah lain. Menghadapi tantangan lomba sambil menerima cemoohan peserta dari sekolah di kota. ‘Anak hutan’ atau ‘anak sapi’ sering kami dengar. 

Namun kami tidak peduli. Hadapi saja dengan senyuman dan pada akhirnya kami yang tertawa. Piala berjejer. Begitu terus setiap tahun. Kami diajari menjadi manusia-manusia berkelas, pemaaf berhati lapang. Mereka kami maafkan. Ejekan kami lupakan. Kami membuka diri untuk anak-anak kota yang ingin berteman, bertanya apa resep juara.

Aku sering bermain bersama anak-anak tetangga, bahasa kotanya Akamsi. Kami main di area perkebunan, dikelilingi pohon-pohon besar diiringi suara sapi yang sedang mencari rumput. Main di sungai, kadang mandi di sana juga. Kami suka menanam sayur dan bunga di halaman rumah yang luasnya tidak seberapa.

Sebenarnya aku kasihan. Orang kota bermain seluas tembok yang memagari sedangkan area kami tidak terbatas. Di kota, sungai dimusuhi sehingga datanglah banjir. Di tempat kami, sungai memberi kehidupan. Menyelamatkan saat kemarau. Kasihan.

Lantas apa yang bisa dibanggakan? Fashion? Tren? Kami sudah sadar tren dan fashion sejak lawas. Anak-anak SD di sini sudah sadar tren sejak dini (baca pandangan SD Tenera soal tren di sini). Kami belajar menggunakan media sosial dan teknologi dengan baik. Kami juga tahu apa yang terjadi di luar sana. Kita ini sebenarnya setara kok.