Paling Keras Suaranya, Paling Dalam Kasihnya

Dok. Wikihow

Kadang, guru yang paling keras suaranya adalah guru yang paling dalam kasihnya.

Tahun 2004. Saat itu aku masih kelas empat SDN 06 Desa Suka Makmur. Wali kelasku bernama bapak Adi Zainal.  Beliau seorang guru yang terkenal galak di kalangan siswa. Badannya besar, berkumis, perutnya buncit, suaranya tegas, tatapan di balik kaca mata bulatnya itu tajam. Mendengar langkah kakinya saja sudah cukup membuat kelas yang gaduh langsung hening.

Beliau satu-satunya guru yang memakai vespa kala itu sehingga tampak sekali ciri khasnya. Ketika suara motor vespa mulai memasuki halaman sekolah, anak-anak langsung menggerutu. Namun anehnya, tidak satu pun dari kami yang benar-benar membencinya.

Setiap pagi, ketika dia masuk ke kelas, anak-anak segera duduk rapi. Tidak ada yang berani bercanda berlebihan. Jika ada yang lupa mengerjakan PR, beliau tidak segan menghukum kami lari keliling lapangan sepuluh kali, dicubit, dipukul memakai buku bahkan penggaris kayu yang panjang.

Di balik sikap tegas dan galaknya, Pak Adi Zainal adalah guru yang sangat peduli. Ia hapal kemampuan setiap muridnya. Ia tahu siapa yang pandai berhitung, siapa yang masih kesulitan perkalian atau apapun itu, dan siapa yang sering tidak masuk sekolah karena sakit atau memang belum mengerjakan PR.

Ada satu peristiwa yang mengubah pandanganku terhadap Pak Zainal. Hari itu sekolah kedatangan tamu dari puskesmas. Mereka melakukan penyuluhan tentang kesehatan gigi. Aku dipanggil ke kantor dengan beberapa siswa dari kelas lain. Gigiku diperiksa kemudian dia bilang agar gigiku dicabut tanpa persetujuan orangtuaku. Aku yang takut dimarahi jika menolak manut saja kala itu.

Pak Zainal sama sekali tidak beranjak dari sampingku. Beliau dengan sabar menunggu sampai proses pencabutan gigi selesai. Tidak sampai di sana, beliau mengantarku ke kelas, mengambil tas, memberikan penjelasan tentang obat yang harus diminum kemudian mengantarku pulang ke rumah dengan motor Vespanya.

Yang lebih mengejutkan adalah aku diberikan izin satu hari untuk tidak masuk sekolah, padahal beliau adalah orang yang sangat anti izin tidak masuk sekolah. Setelah itu aku jadi semakin menghargai tugas-tugas yang beliau berikan. Aku semakin gigih belajar, hingga mendapat julukan ‘anak Pak Zainal’. Aku selalu diberikan kepercayaan untuk mengatur kelas dan lain sebagainya. Semua itu bentuk kepercayaan beliau yang terus aku jaga.

Istrinya pun mengenalku dengan baik karena tiap lebaran—sampai sebelum menikah—aku selalu menyempatkan bersilaturahmi ke rumah beliau bersama teman-teman. Kami sesekali mengenang kejahilan dan kelucuan masa-masa SD. Sekarang beliau sudah pensiun dari dunia pendidikan tetapi ketika namanya disebut, tidak ada yang tidak mengenalnya.