Pemberontakan Sunyi di Balik Kata-kata

Action Figure (Dok: Wikihow)

Sebuah desakan untuk bersembunyi datang setiap kali kata ‘menulis’ disebut di grup WhatsApp. Tumpukan tulisan yang tak pernah terbit di website Nyalanya milik Sekolah Tenera menjadi saksi bisu atas kegagalan itu. 

Tiap naskah, penuh dengan harapan dan ide, berakhir menjadi arsip pribadi di dalam folder komputer. Pikiran saya berputar, mencari-cari kesalahan. Apa yang salah dengan gaya tulisan saya? Apakah pilihan kata saya terlalu kaku atau deskripsi saya terlalu dangkal?

Rasa minder itu berakar kuat dari masa lalu. Nilai 6,5 di pelajaran bahasa Indonesia semasa sekolah dan nilai B- di mata kuliah yang sama seakan menjadi cap permanen yang tak bisa dihapus. Kamu tidak pandai berbahasa, bisikan itu selalu muncul, menghalangi setiap niat untuk memulai. Lebih baik tidak mencoba daripada harus menerima penolakan lagi, pikir saya.

Namun, dunia punya caranya sendiri untuk menggugah. Di suatu sore yang cerah dalam acara bulanan Sekolah Tenera “ We Love Monday”, Ibu Ketua Yayasan, dengan senyum ramah tapi tatapan yang menembus, menyindir saya secara langsung.

“Wahyu, menulis? Ada kendala apa dalam menulis?” Pertanyaan itu sederhana tapi menusuk, membongkar semua pertahanan yang saya bangun.

Dari sana, sebuah keberanian kecil lahir. Saya memutuskan untuk melawan rasa takut. Saya menulis lagi. Kala itu dengan tema yang sangat personal. Sebuah sindiran halus yang membakar semangat untuk para penulis seperti saya. Tanpa keraguan, saya mengirimkan tulisan itu kepada koordinator Nyalanya.

Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk. Jantung saya berdebar kencang. Apakah ini penolakan lagi? Namun, yang saya dapatkan adalah sebuah komentar yang sungguh di luar dugaan. 

Hahaha. Mas punya bakat nulis lho. Kata-kata Mas sudah pakai makna kias semua. Mas sudah leluasa menuangkan ide yang hanya sebuah sindiran untuk tema ‘yang belum pernah menulis untuk Nyalanya’.”

Tulisanku belum terbit juga namun mendapat pujian dari koordinator Nyalanya bahkan menambahkan, “Semoga bulan-bulan selanjutnya selalu hadir ya Mas Wahyu di Nyalanya. Keren.”

Pujian itu bukan akhir dari masalah, melainkan awal dari tantangan baru. Saya tidak lagi dihantui oleh ketidakmampuan, melainkan oleh sebuah pertanyaan: bagaimana saya bisa terus konsisten dan mempertahankan kualitas tulisan yang mereka anggap “keren”? Bagaimana saya bisa menemukan inspirasi baru, tidak hanya dari sindiran, tetapi juga dari hal-hal lain yang ada di sekitar saya?

Sekarang, setiap kali saya duduk di depan layar, saya tidak lagi melihat tulisan sebagai beban, tetapi sebagai sebuah petualangan. Perjalanan dari nilai 6,5 menjadi penulis yang diakui mengajarkan saya bahwa bakat bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sesuatu yang bisa tumbuh dari keberanian.