
Dalam satu waktu, saya merasa teramat bangga menjadi bagian dari Sekolah Tenera, sekolah yang tidak hanya fokus pada pelajaran di kelas, tapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan. Sekolah ini memiliki berbagai kampanye budaya yang mengajak warganya peduli pada diri sendiri, teman dan lingkungan, bahkan lebih luas lagi pada bumi tempat kita berpijak.
Salah satu kampanye yang keren adalah Tenera Hijau, yang kini bertransformasi menjadi “Tinggal Bersama di Bumi yang Sehat”. Kampanye ini bertujuan mengajak seluruh warga Tenera menjaga lingkungan hingga menjadi bagian dari gaya hidup. Namun tentu saja dalam perjalanannya kampanye ini tidak lah berjalan mulus. Sebagian sudah menerapkan dengan sungguh-sungguh, sementara sebagian lagi menganggapnya hanya sekadar kalimat indah tanpa makna.
Buktinya terlihat jelas saat perayaan kemerdekaan Indonesia bulan Agustus lalu. Lapangan hijau di Guest House (GH) masih dipenuhi sampah plastik aneka warna begitu acara selesai. Mengapa ini bisa terjadi? padahal kampanye Tenera Hijau sudah puluhan tahun digaungkan? Apa yang salah?
Ibu Anik, guru SMA, mencoba mencari jawaban dengan melakukan riset sederhana, wawancara dengan anak-anak. Jawaban yang muncul beragam. Ada yang berkata, “Bukan kami yang nyampah.” Ada yang beralasan, “Nanti pasti dibersihkan panitia.” Bahkan ada yang mengeluh, “Kami capek Bu, buang sampah sendiri, tapi yang lain seenaknya saja.”
Dari hasil itu terlihat jelas bahwa budaya LISALABIL (lihat sampah langsung ambil) belum sepenuhnya tertanam. Menanggapi hal itu, manajemen Tenera yang diketuai oleh Ibu Opi, menyiapkan misi untuk menjadikan sekolah Tenera SATU (sampahku tanggung jawabku).
Strategi cerdik nan matang pun sudah disiapkan. Pada minggu pertama, semua tempat sampah di lingkungan sekolah dihilangkan. Operasi ini dilakukan secara serentak pada hari sabtu tanggal 30 Agustus 2025 jam 4 sore di masing-masing jenjang dengan mode senyap dan mengendap-endap. Senin pagi pun tiba, dan tentu saja keributan terjadi. Anak-anak bingung dan penasaran. Anak TK mengira ada maling yang sedang berkeliaran.
“Bu guru, tempat sampah kita dicuri sama mamang oek-oek kayanya!” lapor Dela, salah satu murid TK B.
Mamang oek-oek adalah pengepul sampah plastik yang biasanya menukar sampah dengan mainan murah. Saya berusaha menahan tawa agar tidak dicurigai. Saat Ibu Imas mulai menatap curiga dan bertanya, “Ibu Rita yang ngumpetin ya?” saya pun mengalihkan pandangan dan ikut membantu pencarian, supaya tidak semakin dicurigai.
Namun, meski bingung, anak-anak cepat menangkap pelajaran penting. Tanpa tempat sampah, mereka mulai membawa sampah yang mereka hasilkan pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada lagi keluhan atau mencari-cari tempat sampah. Anak-anak dan guru mulai berkreasi membuat wadah sampah pribadi.
Dari pengalaman ini sebuah pesan muncul, menjaga kebersihan bukan hanya soal tempat sampah, tapi soal tanggung jawab pribadi. Ketika setiap orang mengambil tanggung jawabnya, lingkungan akan bersih, nyaman dan sehat.
Sekolah Tenera membuktikan dengan kreativitas dan kesadaran, perubahan besar bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Satu anak, satu wadah sampah yang diurus sendiri. Bumi yang sehat, pada akhirnya dimulai dari tangan-tangan kecil yang peduli.




Leave a Reply