
Kringg!!
Alarm membangunkanku siang itu. Seperti biasa aku mulai mempersiapkan diri untuk kembali bekerja. Aku kebagian shift sore lagi di awal minggu. Sebenarnya enak sih dapat shift sore karena pagi harinya aku bisa berleha-leha di rumah, bergulat dengan kasur dan bantal guling hampir setengah hari.
Seperti biasa, aku datang pukul 15.00 WIB, tepat di jam pertukaran shift. Hari itu agak aneh, mood lumayan kacau tidak tahu kenapa. Mungkin karena bawaan hamil. Sore itu aku bersama rekan kerja bernama Penti. Aku biasa memanggilnya Bou (tante). Kenapa aku memanggilnya begitu agar anakku nanti ketika lahir langsung memanggil dia mengikuti mamanya.
Kami tidak berdua, ada Bang Rey juga. Dia karyawan baru di toko. Orangnya pendiam, tidak banyak bicara tapi mau lah sedikit-sedikit kami ajak bercerita. Anaknya lumayan rajin dan usianya jauh lebih tua di atasku.
Waktu sudah menunjukan masuk magrib. Biasanya sampai azan selesai baru kami melanjutkan pekerjaan masing-masing tapi ini berbeda karena Kak Penti dan Bang Rey sudah mulai merapikan gudang besar.
“Dek, aku tinggal sendirian di depan ngga apa-apa ?” tanya Kak Penti.
“Iya Bou, lanjutlah” jawabku dan aku tidak masalah karena masih ada beberapa orang yang belanja.
Jam setengah tujuh malam aku membuka HP duduk di samping komputer belakang kasir karena memang sudah agak sepi. Aku tidak sengaja melihat ke arah rak minuman. Astagfirullah, ucapku dalam hati. Aku benar-benar melihatnya. Bentuknya seperti boneka anomali yang biasa anak-anak sebut Tungtung Sahur. Kulitnya hitam dan jalannya jinjit.
Aku tidak berani bergerak. Dalam hati aku terus berdoa agar Tuhan melindungiku. Tidak lama kemudian seorang konsumen datang. “Kenapa Dek, kok pucat?” tanyanya heran.
Aku bilang baik-baik saja dan saat bersamaan perasaan mulai tenang. Tidak lama Kak Penti dan Bang Rey masuk dalam toko. Aku menghela napas, lega, tetapi sedikit meringis. Seperti biasa kami istirahat sebentar sambil menyusun sekaligus mengelap etalase kami. Tidak banyak yang kami ceritakan malam itu. Biasanya kami kerja sambil bersendau gurau tetapi memang mood sedikit tidak baik malam itu. Namun, kami tapi tetap profesional dalam bekerja.
Jam sepuluh lewat empat belas. Sebentar lagi jam pulang kerja. Kami mulai bersih-bersih toko, menyapu adalah rutinitas kami setiap harinya. Ketika menyapu dalam toko, aku melihat ke arah kantor setelah mendengar suara pintu dibuka. Aku pikir suara itu dari Bang Rey karena akan menguncinya tetapi aku salah besar.
Derit pintu yang terbuka itu datang dari sesosok perempuan berambut pendek sebahu berbaju putih yang masuk ke kantor. “ALLAHHUAKBAR!!” aku memekik lalu teriak memanggil rekanku yang sedang menyapu halaman
Kak Penti segera datang dan dengan muka terkejut ia sudah seperti sudah tahu keanehan yang aku alami. Namun, peristiwa itu tidak aku ceritakan sampai kami pulang ke rumah masing-masing. Di toko ini bukan sekali dua kali aku melihatnya. Bahkan rekan kerjaku pernah melihatnya pagi-pagi buta.
Dia sering menampakan diri kepada kami entah apa tujuannya. Tapi, yang jelas kami tidak saling mengganggu. Aku bukan tipikal orang pemberani tapi aku yakin dan percaya Tuhan selalu melindungi di mana pun aku berada selagi niatku tulus untuk bekerja.




Leave a Reply