Kamping Perdana dengan Campervan Sederhana

Dok. Wikihow

Tiga tahun lalu campervan sederhana kami selesai dibuat. Saat itu semangat membangun camperbox begitu menggebu-gebu dan di tengah perjalanan datang kabar bahagia: kami akan dikaruniai bayi lagi. Sejak itu, rencana kamping kami tunda hingga benar-benar siap.

Waktu berjalan, hingga suatu ketika muncul candaan kecil dari sebuah tugas sekolah mendampingi siswa-siswi SMA Tenera dalam acara “Elephant Camp” di seberang Sungai Sebelat, tepatnya di basecamp PLG (Pusat Latihan Gajah). Ide spontan pun muncul, aku ingin sekaligus mengajak keluarga berkemah di sana.

Namun, setelah aku pikir ulang, jika mendampingi anak-anak SMA, aku pasti akan terpisah dari keluargaku. Sungai Sebelat hanya bisa diseberangi dengan perahu kecil sedangkan mereka akan tetap di seberang. Akhirnya kuputuskan untuk mengundurkan diri dari tugas itu lalu memilih kamping perdana bersama keluarga kecilku saja.

Sabtu sore setelah pulang sekolah, persiapan dimulai. Aku mencuci mobil, menata camperbox, lalu memastikan semua perlengkapan siap. Walau sempat molor dari rencana, kami akhirnya berangkat juga selepas magrib. Sebelum memarkir campervan, aku sempat izin ke pak RT setempat. Alhamdulillah beliau menyambut dengan positif dan mengizinkan kami.

Malam itu terasa istimewa. Anak-anak bersama ibunya sibuk menyiapkan makan malam sederhana, sementara aku menyiapkan tempat tidur agar tetap nyaman, memasang lampu, kipas sirkulasi udara, dan beberapa pengaman tambahan. Pukul 21.30 WIB kami siap untuk beristirahat. Di kejauhan akul ihat beberapa orang baru saja pulang memancing di tepi sungai, menandakan malam mulai hening.

Namun, kejutan datang tak lama setelah kami mencoba memejamkan mata. Suara gemuruh sungai terdengar lebih keras dari biasanya. Langit cerah, penuh bintang, bulan pun bersinar terang anehnya air sungai justru naik, hampir menyentuh daratan tempat kami parkir. Degup jantungku bertambah cepat. Aku berusaha menenangkan istriku agar tidak panik meski dalam hati sendiri sempat cemas.

Tak jauh dari tempat kami, ada seorang petugas yang sedang sibuk mengamankan perahu agar tidak terseret arus. Aku mendekat, mencari kepastian. Syukurlah jawaban beliau menenangkan “Aman, mas. Sudah mulai surut kok.” Aku lega.

Aku temani beliau mengobrol sampai jam tiga pagi. Obrolan terputus ketika ia pamit untuk menjala ikan, katanya setelah banjir biasanya banyak tangkapan. Aku pun kembali ke campervan, menyusul keluarga yang sudah tidur.

Pagi itu, alam memberi kejutan indah sebagai hadiah atas keberanian malam pertama kami. Dua pelangi melengkung di langit, sementara di seberang sungai tampak kawanan gajah yang sedang beraktivitas. Sungguh pemandangan menakjubkan!

Aku ajak anak-anak bermain di tepi sungai sambil menyeruput kopi hangat. Sementara itu, ibunya sibuk menyiapkan sarapan. Di tengah kebersamaan itu, seekor gajah betina bernama Sari tiba-tiba menyeberangi sungai bersama pawangnya. Deg-degan rasanya melihat Sari begitu dekat, seolah ingin bercanda dengan kami. Untung pawangnya segera menahan agar Sari tidak terlalu mendekat.

Selesai sarapan, anak-anak kembali bermain air di pinggiran sungai, sementara aku beres-beres perlengkapan. Menjelang siang, kami pun pulang dengan hati penuh syukur. Alhamdulillah, kamping perdana dengan campervan sederhana ini berjalan lancar. Banyak pengalaman, pelajaran, sekaligus kenangan yang akan selalu kami ingat.

Dan tentu saja, kami sepakat ini baru awal. Jika ada waktu dan kesempatan, kami akan kembali berpetualang di destinasi baru bersama campervan kami.