
Dalam perjalanan saya sebagai seorang pendidik di Sekolah Dasar (SD) selama kurang lebih 33 tahun, kondisi penuh warna: perbedaan sifat dan kebiasaan anak adalah salah satu tantangan sebagai seorang pendidik. Terlebih ketika mengajar di kelas satu SD. Butuh suara dan tenaga ekstra serta kesabaran yang lebih luas karena karakter anak umumnya masih senang bermain dan baru mengenal suasana baru dari TK ke SD. Apalagi bagi siswa yang belum bisa membaca dan menulis.
Ada pengalaman yang paling berkesan ketika saya menenangkan siswa dengan cara sedikit keras dengan volume suara saja. Para siswa menjadi tenang dan duduk di bangku masing-masing lalu mendengarkan penjelasan pelajaran.
Namun, ketika saya memberikan beberapa pertanyaan tentang apa yang sudah dipelajari sebagai bahan evaluasi, masih ada saja siswa yang tidak dapat menjawabnya. Padahal, mereka sepertinya mendengarkan dan memperhatikan dengan baik. Di situ saya merasa apa yang saya berikan kepada mereka belum berhasil.
Ada juga siswa yang ketika guru menyampaikan pembelajaran seperti tidak fokus mendengarkan tetapi ketika diberikan pertanyaan, mereka bisa menjawabnya. Duduk tenang belum tentu memperhatikan dan mengerti apa yang disampaikan. Namun, dengan duduk tenang tidak akan mengganggu kegiatan belajar di kelas.
Setelah melalui pengalaman mengajar yang sangat beragam dan berharga, guru tidak hanya sekadar mengajar tetapi belajar, tumbuh, dan terus berkembang untuk memberikan yang terbaik bagi siswanya. Kebanggan tersendiri bagi seorang guru ketika siswa telah berhasil menggapai cita-cita dan masa depan.
Apalagi ketika mereka mau menyapa saat bertemu dengan guru. “Apa kabarnya Bu? Ibu adalah guruku waktu SD dulu. Masih ingatkah dengan saya?” Menerima kalimat sederhana itu,seperti mendapatkan penghargaan yang sangat besar dan berarti dalam hidup saya.




Leave a Reply