
Hari itu gas datang. Aku diminta Kak Penti untuk menghitung sekaligus menyusun gas kosong saat ada yang beli. Kak Penti sendiri mencatat nama-nama pembeli gas. Pas gasnya datang banyak sekali orang mengantri.
Gas yang datang kala itu banyak sehingga kami membagi kuota untuk karyawan yang tinggal di PKS dan warga Afdeling. Kuota untuk karyawan lebih banyak. Kak Penti akan menyebut nama pengantri lalu mereka diantar ke gudang yang aku awasi untuk menukar gas kosong dengan yang baru.
Begitu cara mainnya agar kami tidak terlalu capai. Apalagi saat antrian di toko mengular alias panjang. Namun selalu ada peristiwa unik yang terjadi ketika gas datang ini.
Seorang ibu-ibu yang mengantri di depan pintu kami arahkan untuk menaruh gas di tempat yang telah ditentukan. Tapi sang ibu-ibu itu menawar agar gasnya diletakan di depan pintu saja. Maksudku kalau ibunya mau menaruh gas di sana kenapa harus bertanya gasnya diletakkan di mana, iya nggak sih?
Tinggal bilang begitu saja gasnya pasti aku ambil juga. Nggak perlu tanya-tanya hal yang gak penting atau yang tidak mau dilakukan. Begitulah ceritanya.




Leave a Reply