Petualangan Uang Receh: Dari Rumah Pak RT ke Mangkuk Minyak

Rita Melda

Dok.Gue Sehat

Semalam Aku masih terlelap di rumah Pak RT. Subuhnya sudah sampai saja di mangkok Kang Bubur ayam. Siang sedikit di kantin sekolah, Sore sudah di rumah Abang Tukang Bakso. Eh, malam sudah di rumah supir angkot. Terbayang kan bagaimana pengalamanku saat berkelana. Aku sering melihat Adik-Kakak berkelahi. Belum lagi senyum bahagia–bahkan sampai jingkrak-jingrak– ketika seseorang menemukanku di jalan.

Ngomong-ngomong tentang jatuh, Aku punya pengalaman yang unik dan menyeramkan, sedikit menjijikan juga sih. Aku sarankan tidak sedang makan saat membaca tulisan ini. Pagi itu Aku berada di dalam saku bocah kecil bernama Mat Beken-begitulah dia dipanggil oleh Ibu dan teman-temannya di sebuah desa kecil bernama Ketahun di Bengkulu Utara-Entah kenapa pagi itu Aku tidak diletakkan dalam saku seperti biasa. Mat Beken malah asyik memakanku bak cemilan, memutarku ke kanan lalu ke kiri dalam mulutnya.

Jleeeebbbbb!! AKu jatuh ke dalam r yang gelap dan bau. Aku melihat sekeliling. Banyak sekali benda lembek yang terlihat menjijikkan. Ada yang bentuknya gel, berair, dan berlendir. Oohhhhh tidak! Ini adalah tempat terburuk yang pernah Aku singgahi. Badanku dengan sekejap terputar ke sana ke mari lalu perlahan lahan terjun bebas. Di tengah pengap dan jijiknya benda-benda di kanan kiri, Aku melihat ada sedikit celah yang bercahaya.

Aku berteriak girang, yakin telah menemukan jalan keluar dari tempat menjijikan ini. Aku perlahan mendekati arah cahaya dan akhirnya bisa keluar dari r gelap bau itu. Aku lihat “Mat Beken” jongkok di tanah. Di depannya sudah ramai sekali dengan orang. Ada Ibunya, tetangga, Abang, dan Si Penulis cerita ini. Mereka memandangiku dan Mat Beken dengan wajah cemas dan was-was. Tak lama setelah aku menghirup udara segar, semua wajah penasaran itu mendekat lalu memisahkanku dengan tumpukan benda lembek kekuning kuningan dengan kayu.

“Dapat wooyyyy ini recehannya” celetuk si Abang,

“Woowww koinya jadi hitam woy” kata Mat Beken.

Mereka lalu memandikanku dengan pasir. Seketika tubuhku bersih dan wangi kembali. Mat Beken langsung berlari ke warung menukarkanku dengan snack “Anak emas”. Tanpa curiga yang punya warung menggenggamku erat. Andai si penjual tahu dari mana Aku sebenarnya, dia pasti akan terpekik. Hahahha

Kenangan itu terasa sangat menyenangkan bagiku dibanding sekarang. Kini aku berada di sebuah wadah yang dipenuhi minyak. Terasa lengket dan beraroma. aku begitu dibutuhkan untuk membantu mengeluarkan angin dari tubuh Ayah, meskipun kadang aku merasa sedikit agak jengkel karena harus bersentuhan dengan daki yang berwarna kehitaman. Tapi apa daya Aku tidak bisa menolak. Meski geli Aku coba mengimbangi gerakkan tangan Ibu sampai kulit menjadi kemerahan. “Aaaaaakkkkkkkkk!” ketika Ayah mengeluarkan suara seprti itu selesai tugasku lalu Aku diletakkan kembali. Begitulah seterusnya.

Terimakasih untuk anak-anak 90-an. Kalian memberikan pengalaman berpetualang yang hebat buatku. Salam kangen dari mangkuk berminyak.

Rita Melda
PAUD Tenera



Genre:

Tema: