
Tahun 2025 bagi Nyalanya terasa seperti menyalakan lilin satu per satu di ruang yang panjang dan gelap. Tidak spektakuler. Tidak heroik. Tetapi pelan-pelan, cahaya itu mengubah cara kita memandang dunia yang penat ini.
Di sana, tulisan para guru sering datang seperti catatan malam. Mereka menulis tentang kehidupan rumah tangga yang jauh lebih sulit dari memahami sebuah karya sastra penulis besar, tentang murid yang datang terlambat karena membantu orang tua memanen, dan tema-tema pinggiran yang kerap diabaikan. Membaca catatan mereka, saya sering merasa bahwa guru-guru ini adalah semacam penjaga api. Tidak ada panggung, tidak ada kamera—hanya kesabaran panjang, seperti menunggu fajar di musim yang tak menentu.
Lalu ada karya tulisan anak-anak SD hingga SMA Tenera. Tulisan yang kadang canggung, ejaan yang loncat-loncat, metafora yang belum matang. Tapi justru di sana letak keindahannya. Mereka berfantasi, tentang sahabat yang tak pernah lelah menemani, tentang cita-cita menjadi dokter, pemain bola, atau sekadar ingin membuat mamak tidak susah lagi. Membaca mereka, saya teringat satu hal yang sering dilupakan orang dewasa: bahwa dunia pertama-tama diciptakan oleh imajinasi, baru kemudian industri.
Para karyawan toko Mathagia menambah gambar. Cerita mereka sunyi, tapi tajam. Tentang jam kerja yang panjang, tentang pelanggan yang cerewet, tentang malam-malam pulang dengan motor tua melewati perkebunan tua yang horor. Buat saya, cerita mereka lebih jujur sekaligus menarik dari khotbah panjang para profesor di panggung seminar.
Sepanjang 2025, nyalanya.com tidak punya—bahkan cenderung menolak wacana besar. Hanya kejujuran kecil yang berserak. Namun, buat saya, kejujuran kecil itulah yang paling kita butuhkan hari ini. Sebab, di tengah arus informasi yang cepat dan padat, kebohongan hanya terasa seperti angin; datang, berlalu, dan melena.

Saya melihat, di balik semua tulisan itu, ada semacam perlawanan yang lembut. Terhadap pikiran bahwa literasi hanya urusan kota. Pada sinis bahwa menulis tidak akan mengubah apa-apa. Mereka tahu, dunia tidak akan berubah hanya karena sebuah artikel dipublikasikan. Tapi mereka juga tahu, tanpa kata-kata, kita tidak akan meninggalkan apa-apa. Kalah.
Memang ada waktu ketika Nyalanya terasa rapuh serupa ranting kecil yang hampir habis dilumat api. Namun justru di sanalah maknanya: tetap menulis meski tidak disorot. Tetap membaca meski tidak dipuji. Tetap percaya meski tidak ada jaminan.
Akhir tahun 2025, jika kita menengok ke belakang, tidak ada perayaan besar. Namun ada jejak. Ratusan tulisan yang lahir dari beragam tangan: guru, siswa, karyawan toko, ibu rumah tangga, bahkan orang yang baru belajar mengeja. Setiap tulisan adalah batu kecil yang disusun diam-diam untuk membangun jembatan: antara kebun dan dunia, antara pohon dan pencakar langit, antara diam dan kota.
Barangkali, di mata orang-orang yang senang pada angka dan grafik, Nyalanya hanyalah situs kecil. Tetapi bagi mereka yang pernah menulis di sana, atau sekadar membaca dengan hati yang terbuka, situs itu adalah bukti bahwa literasi bukan kemewahan; ia adalah kebutuhan untuk tetap menjadi manusia.
Seperti catatan harian yang disembunyikan di balik buku pelajaran, ia menyimpan rahasia: bahwa Putri Hijau tidak hanya menghasilkan tandan tetapi juga orang-orang merdeka yang berpikir.




Leave a Reply