Refleksi Diri

Dok.Wikihow

Manusia itu makhluk paling hebat dalam berencana. Bicara tentang keinginan begitu detailnya seperti tahu semua akan berjalan mulus seperti semboyan jalan tol. Merancang hal-hal indah dalam sebuah khayalan sederhana kadang membuat alam bawah sadar merasakan sensasi kebahagiaan hingga lelap melahap khayalan.

Lagi-lagi itu hanya sebuah rentetan kisah dalam angan yang manusia inginkan. Menolak peran antagonis, menolak skenario kesedihan, dan tiba-tiba saja menjadi sutradara film bahagia terbaik sepanjang masa.

Di dunia yang begitu bising ini, semua sedang menjalankan keputusannya. Setiap detik yang dilalui, suka tidak suka, siap tidak siap, semua hanya perlu dilewati. Ada keadaan yang pada akhirnya hanya bisa aku terima. Sekalipun merasa tidak ada jalan lain tapi pada akhirnya harus dijalani saja. Entah jalan itu menyedihkan, menakutkan atau bahkan menyuruh untuk menyerah. Setidaknya kita sudah berjuang dan berusaha menyelesaikan apa yang telah dimulai.

Sepertinya semua akan mudah bukan? 

Haha…sekarang saatnya aku menertawakan semua skenario itu hingga di sudut kedua mataku mengalir air mata yang perlahan membasahi kerah bajuku. Ternyata tidak mudah, tidak gampang. Ini sulit, begitu menyakitkan, perlahan aku tarik napas dalam-dalam, rasanya sesak sekali. Ternyata mengikhlaskan tidak semudah menarik napas. Ada nyeri yang tidak dapat aku jelaskan.

Ah, sudahlah. Pada akhirnya waktu juga yang membiasakan. Katanya pendewasaan manusia itu bukan dari usia tapi dari peristiwa dan kesulitan yang berhasil dilalui.  Katanya begini. Tak semua harus dijelaskan. Tak semua pantas dijelaskan. Kadang, yang paling damai adalah diam yang selesai.