Sembilan Tahun Nyalanya: Ruang Kecil untuk Tetap Waras

Dok. Wikihow

1.601 tulisan—sebenarnya 1.800an andai 200 tulisan tidak hilang ditelan internet, 566 penulis, dan rata-rata dibaca 200an orang per harinya. Begitulah angka (baca: fakta) Nyalanya selamasembilan tahun ada di tengah-tengah dunia ini.

Kalimat di atas aku ambil dari tulisan Tukang Kebun (begitu kami memanggilnya) tentang perjalanan Nyalanya, web kecil yang lahir di tengah perkebunan. Dari 1.601 tulisan, ada 24 tulisan yang lahir dari pemikiran, pengalaman, dan perjalanan hidupku sendiri selama 40 tahun.

Tentang pengalaman spiritual dan kenangan masa kanak-kanak. Tentang bagaimana aku belajar mensyukuri pernikahan muda yang penuh liku. Tentang cara sederhana merayakan keberhasilan sekecil apa pun itu. Semuanya aku tuang dalam tulisan yang sederhana, jujur, dan apa adanya.

Aku tidak pernah berharap tulisan-tulisan ini suatu hari akan berjajar di rak toko buku besar atau menjadi karya yang dibicarakan banyak orang. Bagiku, menulis adalah cara menjaga ingatan, merawat perasaan, dan menyimpan jejak hidup agar tidak hilang begitu saja. Selama masih ada hal yang bisa disyukuri, semangat untuk menulis rasanya harus tetap dijaga.

Aku ingin menulis lebih banyak lagi tentang malam-malam yang membuatku dipenuhi kekhawatiran. Tentang bagaimana berusaha terlihat baik-baik saja, padahal pikiran sibuk melawan banyak hal sekaligus.

Aku ingin menulis tentang bagaimana menjaga kewarasan di tengah tekanan yang datang bertubi-tubi. Tentang perlakuan yang terkadang melukai, ucapan yang diam-diam membekas, dan keadaan yang memaksa diri untuk terus kuat bahkan ketika hati mulai lelah.

Sebab, ternyata menjadi dewasa bukan hanya soal mampu bertahan hidup, tetapi juga tentang belajar berdamai dengan keadaan yang tidak selalu sesuai dengan harapan. Ada banyak malam yang dilewati dengan kepala penuh pikiran, tetapi pagi tetap harus disambut dengan semangat dan energi baru.

Dan mungkin, lewat tulisan-tulisan sederhana inilah aku belajar menyelamatkan diriku. Menyusun ulang perasaan yang berantakan lalu perlahan menerima bahwa tidak semua luka harus dijelaskan kepada orang lain untuk bisa sembuh.

Pada akhirnya, aku hanya ingin berterima kasih kepada Nyalanya. Sebuah ruang kecil yang menjadi tempat pulang bagi banyak pikiran. Lewat tulisan-tulisan di sana, aku merasa diberi ruang untuk tetap waras, untuk tetap mendengar diriku sendiri di tengah bisingnya hidup yang kadang memekakkan.

Mungkin bagi sebagian orang itu hanya sebuah laman sederhana, tetapi bagiku Nyalanya adalah saksi bahwa seseorang bisa bertahan hanya dengan terus menulis dan tidak menyerah pada dirinya sendiri.