
Aku menyadari sesuatu selama liburan kemarin. Ternyata semakin dewasa, seiring bertambahnya usia, cara kita memandang persoalan hidup itu tambah rumit.
Mulanya aku berpikir me time terbaik adalah diam di rumah tanpa gangguan dari siapa pun. Namun, saat liburan kemarin aku merasa me time seperti itu sudah usang padahal aku sangat menyukainya. Bingung kan? Merasa bosan terhadap hal yang disukai itu menurutku sedikit aneh. Suka kok bosan.
Siapa yang tidak ingin waktu liburannya berkesan? Kita bisa berdebat tentang makna liburan atau seperti apa yang berkesan. Buatku liburan berkesan itu sesungguhnya adalah melewati momen-momen bahagia bersama keluarga ke tempat wisata.
Semakin tambah usia aku menyadari bahwa momen liburanku tidak pernah berkesan. Apalah dayaku ini, konsep liburan (me time) yang aku yakini selama ini ternyata tanpa warna. Bila keluar bersama keluarga, selalu saja ke rumah kakek nenek yang hanya beda kecamatan saja.
Aku sebenarnya berharap ada sesuatu yang baru dan menyenangkan tetapi terus dipatahkan keadaan. Jadi selama ini aku itu tidak merasa berlibur atau liburan. Hanya aktivitasku saja yang setop. Aktivitas sekolah, belajar, mengerjakan PR, dan kerja kelompok berhenti sementara. Ototku tidak lagi bekerja tetapi otakku sepertinya mengecil.
Yang aku lakukan selama libur hanya begitu-begitu saja. Siklus berulang. Membersihkan rumah, makan, minum, tidur, dan di sela-sela siklus itu aku berharap sekali ada yang mengentuk pintu rumah lalu mengajakku berpetualang. Semoga.




Leave a Reply