
Tidak terasa sudah setahun lebih mama meninggalkan kami untuk selamanya. Selama setahun ini aku selalu mengingatnya. Bukannya aku tidak ikhlas atas kepergiannya tetapi memang berat. Selama bapak—yang sering sakit-sakitan—dirawat di rumah sakit, mama yang setia merawat dan mendampingi bapak. Mama adalah perawat andal untuk bapak kami.
Tahun 2024 tepatnya bulan Mei, mama kurang enak badan. Badannya pegal-pegal disertai batuk. Kami kira sakit biasa akibat kelelahan karena beberapa hari sebelumnya di rumah kami ada acara syukuran, mungkin kecapekan. Jadilah mama hanya berobat ke bidan dekat rumah dan malamnya diurut.
Setelah beberapa hari tidak ada perubahan, punggung mama malah semakin pegal. Mama tiba-tiba sesak sehingga kami bawa ke rumah sakit. Di rumah sakit, mama didiagnosa sakit jantung. Setelah menjalani pengobatan mama pulang dan dianjurkan rutin makan obat.
Sebulan setelah kejadian itu kaki sebelah kanan mama sakit, kalau jalan agak pincang. Akhirnya mama berobat ke dokter spesialis saraf, mana tahu saraf terjepit. Setelah mama berobat ke dokter saraf bukannya membaik malah semakin sakit. Tidur saja pinggulnya sakit. Akhirnya mama kami bawa berobat ke dokter spesialis saraf, terapi, akupuntur, dan terakhir dokter spesialis tulang di Medan.
Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan dan MRI, mama didiagnosa kanker tulang. Kami semua sangat sedih mendengar berita ini. Mama memutuskan untuk pulang ke kampung, tidak mau dikemoterapi karena sudah tidak kuat dengan umurnya yang sudah 72 tahun.
Di rumah mama tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Duduk salah, jalan salah, tidur juga tidak nyaman. Awalnya mama masih bisa jalan pelan-pelan tapi lama-lama hanya bisa duduk dan akhirnya hanya bisa tidur. Hari-hari yang dilalui penuh rasa sakit luar biasa.
Mama tidak bisa tidur karena sakit. Kalau sudah minum obat pereda nyeri, barulah mama bisa istirahat tidur sebentar. Aku tidak tega melihat penderitaan mama, begitu sakitnya. Aku jadi takut menelepon ke kampung. Setiap teleponan pasti air mata dan kesedihan yang aku dapat. Rasa takut itu selalu aku lawan demi mendengar suaranya.
Aku sering mengatakan padanya, bahwa kami, anak-anaknya sangat mengasihinya. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar memberikan yang terbaik untuk mamaku. Tanggal 18 Juli 2025 mama dipanggil Tuhan untuk selamanya. Aku ikhlas bercampur sedih yang luar biasa untuk kepergiannya. Dalam hatiku mungkin ini yang terbaik untuk mama.
Sekarang mama sudah tidak ada lagi. Kadang aku mengkhayal di mana mama sekarang. Apakah dia di sana bahagia? Yang pasti mama tidak kesakitan lagi. Beristirahatlah dengan tenang, kami akan selalu mengenang dan menyanyangi. Namamu akan selalu hidup dalam hati kami. Kami juga selalu merindukanmu. Terutama bapak, orang yang paling kehilanganmu.




Leave a Reply